Di pesantren kecil yang berdiri tenang di ujung kampung, pagi selalu datang lebih awal daripada kesibukan manusia. Suara ayam jantan bersahut dengan lantunan ayat suci dari surau kayu. Embun masih menggantung di ujung daun ketika seorang lelaki membuka pintu kamarnya perlahan.
Namanya Qathni.
Usianya menanjak menuju tiga puluh. Usia yang oleh sebagian orang disebut masa mengejar kepastian, namun bagi Qathni hanyalah perjalanan panjang menuju ridha Tuhan.
Setiap pagi, sebelum santri-santri kecil berlari menuju kelas diniyah, Qathni sudah berdiri di halaman. Tangannya memegang selang air, menyiram satu per satu bunga yang berjajar rapi di depan asrama.
Melati. Mawar. Kamboja Jepang. Anggrek yang tumbuh malu-malu.
Ia merawatnya dengan telaten, seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu yang tak terlihat oleh mata manusia.
“Bunga juga makhluk Allah,” katanya suatu pagi kepada seorang santri kecil yang memperhatikannya.
“Kalau dirawat dengan sabar, dia akan mekar tanpa kita paksa.”
Santri itu mengangguk pelan.
Qathni tersenyum tipis.
Setiap daun yang layu ia bersihkan. Tanah yang mengeras ia gemburkan. Pot yang retak pun ia perbaiki. Tidak pernah ia melewatkan satu pagi pun tanpa menyapa bunganya.
Namun di balik kesibukan itu, ada ruang sunyi dalam dirinya.
Satu per satu sahabatnya telah menemukan pasangan hidup. Grup pertemanan lama kini lebih ramai dengan foto keluarga kecil, doa kelahiran anak, dan cerita rumah tangga. Undangan pernikahan datang silih berganti, sementara nama Qathni selalu tertulis sebagai tamu—bukan mempelai.
Ia tidak merasa tertinggal.
Hanya… kadang bertanya dalam diam.
Mengapa ia begitu pandai merawat bunga, tetapi belum menemukan bunga hidupnya sendiri?
Seusai Subuh, Qathni duduk di serambi masjid. Kitab kecil terbuka di pangkuannya. Angin pagi menyentuh halaman pesantren, menggoyangkan bunga-bunga yang baru saja ia siram.
Ia menatapnya lama.
Dalam lirih hatinya berdoa:
“Ya Allah, jika Engkau belum mempertemukanku dengan bunga hidupku, mungkin Engkau sedang mengajariku cara merawatnya terlebih dahulu.”
Pesantren mengajarkannya satu hal:
kesabaran bukan sekadar menunggu, tetapi tetap menjaga harapan tanpa mengeluh kepada waktu.
Hari mulai terang. Santri-santri berlarian membawa kitab. Suara hafalan bercampur tawa memenuhi halaman.
Qathni kembali berdiri.
Ia menyiram bunganya sekali lagi, memastikan setiap akar mendapat cukup air.
Barangkali suatu hari nanti, seseorang akan berjalan melewati halaman itu. Melihat bunga-bunga yang tumbuh sehat. Lalu bertanya siapa yang merawatnya.
Dan mungkin, tanpa ia sadari, perempuan itu adalah bunga yang sejak lama Allah siapkan untuknya.
Qathni tidak terburu-buru.
Ia percaya, lelaki yang setia merawat pagi tidak akan kehilangan takdirnya di senja hari.
Di antara embun, doa, dan tanah yang basah—
ia tetap menjalani rutinitas sederhana:
menyambut pagi,
dan merawat bunganya.

