Beranda blog

Pesantren Al Manar Gelar Pelepasan Santri Kelas IX Tsanawiyah Angkatan 2026

0
Pesantren Al Manar Gelar Pelepasan Santri Tsanawiyah Angkatan 2026

Pesantren Modern Al Manar melaksanakan kegiatan pelepasan santri kelas III Madrasah Tsanawiyah sebagai simbol selesainya pendidikan selama tiga tahun di lingkungan pesantren. Kegiatan tersebut berlangsung di aula pesantren pada Ahad, 10 Mei 2026.

Acara pelepasan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh pimpinan pesantren, dewan guru, wali santri, serta para santri kelas akhir Tsanawiyah.

Pimpinan pesantren yang diwakili oleh Koordinator Pengasuhan Santri, Ust. H. Syahrul Ramadhan, MA, dalam sambutannya berharap agar seluruh santri tetap menjaga nilai-nilai pendidikan pesantren yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di Pesantren Modern Al Manar.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga akhlak, kedisiplinan, serta adab dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi santri yang tidak melanjutkan pendidikan di Al Manar.

“Kami berharap seluruh santri tetap membawa dan mengamalkan nilai-nilai pesantren di tengah masyarakat. Terutama bagi yang tidak melanjutkan lagi di Al Manar, jadikan ilmu, adab, dan kedisiplinan yang diperoleh selama ini sebagai bekal kehidupan,” ujarnya.

Selain itu, pihak pesantren juga berharap kepada para orang tua agar terus mengawal pendidikan, pergaulan, dan kehidupan anak-anak mereka secara konsisten setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat Tsanawiyah.

Pada kesempatan tersebut, santri kelas III Tsanawiyah angkatan tahun 2026 juga menyerahkan wakaf dalam bentuk uang tunai sebesar Rp35.200.000 kepada pihak pesantren sebagai bentuk kontribusi dan kenang-kenangan dari para santri selama menempuh pendidikan di Pesantren Modern Al Manar.

Sementara itu, perwakilan wali santri, Prof. Dr. Damanhuri, M.Ag, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pihak pesantren atas dedikasi dalam mendidik para santri selama tiga tahun terakhir.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan dan guru Pesantren Modern Al Manar yang telah membimbing dan mendidik anak-anak kami dengan penuh kesabaran dan keikhlasan,” ungkapnya.

Penutupan kegiatan diakhiri dengan doa bersama serta penampilan seni Likok Pulo dan Ratoh Jaroe yang dibawakan oleh santri kelas III Tsanawiyah. Penampilan tersebut turut menambah suasana haru dan kebersamaan dalam momen pelepasan santri tahun ini.

Kegiatan pelepasan tersebut menjadi momentum haru sekaligus kebanggaan bagi para santri dan orang tua setelah menyelesaikan salah satu jenjang pendidikan di Pesantren Modern Al Manar.

Puisi-Puisi yang Hampir Seluruhnya Ciamik

1
Puisi-Puisi yang Hampir Seluruhnya Ciamik

yang belum sempat aku dengar

;

aku belum pernah mendengar dari laut bahwa kasih lebih lembut dari kasihmu.

aku belum pernah mendengar dari langit bahwa sayang lebih jernih dari sayangmu.

aku belum pernah mendengar dari gunung bahwa cinta lebih kokoh dari cintamu.

aku belum pernah mendengar dari sungai bahwa doa lebih deras dari doamu.

aku belum pernah mendengar dari hutan bahwa kangen lebih tak terlihat dari kangenmu.

aku belum pernah mendengar dari hujan bahwa suara lebih merdu dari suaramu.

aku belum pernah mendengar dari kemarau bahwa amarah lebih kering dari amarahmu.

segala yang berasal darimu, membawaku melihat lebih dekat keindahan tuhan.

baca juga: Bagaimana Ronasofie Membuat Pawang Hujan Mimisan

pengajian

;

datang bareng gebetan.

beriringan.

lalu lesehan.

ustaz ngomongin soal iman, usai ngaji isi ceramah berserakan.

yang dibawa pulang hanya kenangan yang tak terlupakan.

diam-diam

; untuk Rosamund Rye

diam-diam tuhan menghujaniku dengan kangen. setelah hujan sore tadi, rumahku dipangku kesepian. pintu terbuka sejak siang, dan kangen seperti angin yang mengempaskan sajak-sajak usang.

diam-diam aku meminta seluruh nabi dan malaikat mendoakanku, sebab bekerja dan berdoa saja tidak cukup untuk menyampaikan kangenku kepadamu.

diam-diam takdir tidak memangku kita sekarang. kau di seberang jalan, berdoa di antara pohon-pohon. waktu menahanku menyeberang sampai lalu lintas lengang dan telapak tanganmu membentang.

usaha menghapus nama

;

apakah kau berusaha menghapus namamu setelah apa yang telah tercuri dari hatiku? lampu-lampu kota menyala siang hari, dan tak seorang pun berusaha memadamkannya. kau selalu menunjuk namaku di papan reklame di seberang jalan Nyak Makam, dan burung-burung hinggap di besi-besi hitam, membuatku lengah, hingga tiba-tiba aku jatuh—cinta?—lagi ke dalam ingatan lini masa.

di radio seorang penyiar menyebut namamu lima belas kali. kudengar, kau memesan lima lagu; lima lagu agar hidupmu stay on track. gila bener! mantap! malamnya aku tidur nyenyak dan memimpikan doa-doa terkabul, satu per satu menaiki tangga langit, bagai bocah-bocah putih dalam cerita dongeng mendulang bintang-bintang.

hari-hari ini ada kebiasan buruk yang kita kenal baik: membeli penghapus sebanyak-banyaknya dan menghapus percakapan yang tak sempat terjadi. kita mengulangnya di hari saat cuaca buruk. lalu kita membawa pulang kekesalan masing-masing dan menghidangkannya kepada orang lain. tak ada yang lebih dingin dari pada kemarahan yang diakhiri dengan seringai dan kita tidak pernah mengenali cinta sejenis itu.

apakah kita pernah berjanji untuk muncul di persimpangan? penjual balon ulang tahun mewarnai jalan kita? apakah kau juga melihat apa yang kulihat pagi itu di kaki langit? di persimpangan jalan kita berjumpa dan tak pernah lagi mengharapkan satu sama lain, kecuali sebuah keselamatan menuju jalan panjang.

24 jam

;

tuhan, 24 jam aku mengulang-ulang namanya. doa-doaku runtuh ke laut dan ikan-ikan besar menyemburnya ke udara tanpa ada tangan-tangan yang menyelamatkan. berdosakah aku, tuhan, setiap kali kusebut namamu kusebut pula namanya? selama ini begitu berhasil kusebut namamu saja aku tertawa riang dan kemudian namanya membuatku meriang.

saat namanya disebut aku juga menoleh, seakan-akan nama itu untuk mengenali diriku. padahal kami begitu berbeda; ujung sepatu hingga kuku jari. kecuali dalam mimpi, kami begitu serupa. tetapi, tuhan, tirai kami telah tersingkap dan ia berpura-pura tak pernah tahu siapa pemeran dalam cerita yang telah kami mulai. karena begitu, aku hendak melaporkan kegiatanku kepada engkau:

aku bangun tidur lalu mengusap mataku yang tak pernah melihat selain dia. pukul tujuh aku berjemur, karena matahari yang baru saja terbit berasal dari matanya. pukul delapan aku mandi, membasuh kangen sisa semalam. pukul sembilan aku masak, dengan api hasil kami marah-marahan. pukul sepuluh, aku menyiram bunga, lebih lambat dari seharusnya. pukul sebelas aku menyanyi lagu Bunga-Bunga di Bulan. pukul satu aku tidur siang dan bangun sore; merayakan mimpi para kecoak.

malamnya aku mengadu; ya tuhan, aku mengulang-ulang ingatan tentang dia dan tak pernah ada waktu untukmu, apakah aku akan bangun di dunia lain sebagai seseorang yang tak punya ingatan sama sekali?

Museum

; mohon dimengerti, kami hanya buka sekali dalam setahun. selebihnya kami tidak percaya kepada proyek pemusnahan ingatan yang digagas oleh bujangan antah-berantah itu. terima kasih.

kau yang tak mau kucintai, telah menjadi museum di dalam kepalaku. aku akan mengunjunginya setiap Oktober dan memutarkannya kepada anak-anakku bahwa “kalian tak pernah mempunyai seorang ibu.”

“kalian lahir dari mimpi-mimpiku yang tak usai, dan ibu kalian pergi ke Selatan menghadiri pemakaman diriku. ia tak kembali; hanya menitipkan air mata serta setangkai bunga.”

setelah seratus tahun kau kembali dan menggali tubuhku dan mengajak anak-anak bicara. kau sentuh wajahku; mengusap keningku. mereka menyapa, “ini tubuh laki-laki yang tak pernah usai memimpikanmu, Ibu. kau satu-satunya perempuan dengan tahi lalat di kanan mata yang diingatnya dan dinaikkan namamu selalu ke dahan-dahan pohon. kau lah perempuan itu.”

kau tergeming di sana seperti diamnya tubuhku. lalu mereka menyaksikan pemakaman dirimu yang perlahan-lahan menjadi ingatan museum.