Bagaimana Putri Indrapuri Membuat Pawang Hujan Mimisan

Wajib Baca

1.

Persoalan cintanya rumit. Kepala negara sampai harus turun tangan mengurusi asmaranya. Dan suatu kali si presiden melenggak masuk ke kamarnya dan mengatakan bahwa ia sudah kehabisan akal membujuk Putri Indrapuri agar sudi kiranya mengakui cintanya dan memperhitungkannya sebagai cinta yang tak main-main.

“Aku sudah berusaha semampuku,” kata si presiden. Setelah itu si presiden terbang ke Jakarta dan kembali mengurus negara.

Tetapi Mullah Kunti tetap bergerak bagai angin menyusupi setiap celah kesempatan. Ia memaklumi ruang geraknya sendiri bahwa ia tidak bisa bergerak serampangan. Tindakan yang gegabah akan menimbulkan pertarungan antara ia dan Doles Taming. Dan ia senantiasa berupaya mati-matian meyakinkan dirinya sendiri bahwa Doles Taming hanya akan bergurau dan terkekeh jika sewaktu-waktu ia ketahuan mengejar perempuan yang sama dengannya. Sekalipun upaya itu setiap hari ia lakukan, bayangan pertarungan tetap terputar di kepalanya dan bahkan ia membayangkan lebih dari itu kalau-kalau mereka akan bertumpah darah dan tonjok-menonjok memperebutkan Putri Indrapuri. Sebab itulah Mullah Kunti berbisik kepada kepala negara bahwa ia membutuhkan pertolongan besar.

Sampai nanti hujan lebat yang menyebabkan banjir, Doles Taming berdiri setiap waktu di lereng gunung menghindarkan hujan dari Indrapuri. Ia mengalunkan tangan ke langit dan menggeser awan hitam, merapal mantra-mantra dan meniup petala langit; pawang hujan itu tak henti-henti melindungi perempuan kecintaannya di dalam Indrapuri. Bahkan saat perempuan itu berangkat meliput berita di luar daerah, ia diam-diam memayunginya dengan awan agar kekasihnya itu tidak disengat matahari; ia tak henti-henti memikirkan keselamatannya. Perempuan itu seperti bernapas di dalam pikiran Doles Taming.

Mullah Kunti mengedipkan mata setiap kali diburu liputan oleh Putri Indrapuri. Ia tahu diri bahwa ia adalah orang penting di Pidie. Maka ia selalu berpikir bahwa untuk menaklukkan wanita ia cuma memerlukan dua kali kedipan mata. Sepanjang sejarah umat manusia, cara itu beberapa kali berhasil. Tetapi itu kuno; itu cara para leluhur bajak laut saat hendak bermain kotor.

“Hari ini tidak begitu panas, ya. Apa itu karena kau muncul dan segalanya menjadi sejuk?” Gombal Mullah Kunti.

Doles Taming senantiasa berdiri di kejauhan menahan awan di atas tempat berdirinya Putri Indrapuri. Tetapi, saat ia melihat senyumannya timbul karena gombalan si pejabat itu, ia merasa hatinya seperti diremuk tangan raksana dan ia hampir saja tumbang mempertahankan awan untuk kekasihnya. Dengan amarah yang membara, sehari kemudian ia mengirimkan hujan lebat ke Pidie selama tiga hari berturut-turut dan menenggelamkan setengah dari kediaman Mullah Kunti. Mullah Kunti segera mengabarkan orang-orang di Jakarta bahwa ia membutuhkan pertolongan besar. Maka, dua hari setelah hujan berhenti, kepala negara sudah berada di lokasi banjir. Air surut dan si presiden diminta menggelontorkan bantuan untuk masyarakat terdampak. Tetapi, Mullah Kunti bukan hanya memikirkan penanggulangan bencana, ia juga menekan si presiden untuk menetap di Pidie selama satu pekan.

Mullah Kunti terlihat sangat gagah setiap akan diwawancarai. Badannya legam dan gempal. Memang suaranya merdu. Saat masih kecil, Mullah Kunti sering diikutkan MTQ oleh ayahnya. Tetapi, entah di umur berapa ia mulai berpolitik dan bermain kotor, bahkan untuk hal-hal yang dapat merusak reputasinya sendiri.

Putri Indrapuri diganjar penghargaan istana sebagai wartawan teladan selama peliputan bencana. Rekayasa itulah yang dijalankan kepala negara selama sepekan berada di Pidie. Melalui penghargaan itu, Putri Indrapuri beberapa kali diundang ke pendopo dan membuatnya harus bercerita tentang pengalamannya di dunia kewartawanan. Ia merasakan nyeri di rahangnya karena mesti tersenyum setiap kali menjeda dan hendak melanjutkan obrolan, bahkan ia harus senyum untuk hal-hal yang arahnya kerap ia curigai. Tetapi sampai kali terakhir ia diundang ke pendopo, Putri Indrapuri belum juga menampakkan gerak laku yang memuaskan hati Mullah Kunti. Segala sesuatu yang terpancar dari Putri Indrapuri adalah misteri; senyumannya bisa berarti kebohongan. Jelingan matanya bisa jadi kewaspadaan. Bahkan setiap kata-kata yang harus diucapkan dengan tenang bisa menjadi bentuk ketidaknyamanannya.

Pada hari Selasa, mereka keluar dari pendopo pukul satu siang dan naik mobil ke restoran yang ada di sisi luar kota. Mullah Kunti di kursi belakang bersampingan dengan Putri Indrapuri. Ia gugup sampai berkali-kali menggosok hidungnya, dan menarik-narik ingusnya. Kepala negara ada di mobil satunya, bersama dua pengawal. Di meja makan si presiden melahap banyak makanan sebelum kemudian ia beralasan perutnya mules dan harus meninggalkan mereka berdua dan seorang sopir. Mullah Kunti sama sekali tidak menduga bahwa itulah cara paling mutakhir dari si presiden demi melancarkan pengakuan cintanya.

Si presiden melenggak keluar dari restoran. Menghela napas dan mematut posisi duduk di kursi belakang, pengawal menutup pintu mobil. Mullah Kunti melihat mobil itu melaju meninggalkan parkiran. Sekarang tinggal mereka berdua di meja makan. Berhadapan. Meja itu selebar rentangan tangan orang dewasa. Memberi ruang bernapas bagi Mullah Kunti. Sekalipun begitu, ia tetap kikuk mengembalikan mukanya ke piring. Terdiam seribu bahasa hingga kunyahan terakhir.

Putri Indrapuri melihat ke luar jendela. Merasakan perubahan langit yang tiba-tiba redup. Ia melihat bayangan arakan awan di dinding-dinding bangunan di seberang jalan melalui bahunya.

“Sepertinya akan hujan.” Katanya kepada Mullah Kunti.

“Iya, sepertinya begitu.”

Mullah Kunti melihat langit.

“Mengapa Anda terlihat kikuk? Saya tidak terbiasa melihat Anda sediam ini.”

“Makanlah.”

“Saya sudah selesai.”

“Tambah lagi.”

“Terima kasih. Saya sudah kenyang.”

Mullah Kunti lalu menenggak segelas air putih.

“Apakah Anda hendak mengatakan kepada saya bahwa Anda menginginkan saya menjadi istri Anda?”

Mullah Kunti mematung. Seketika selera makannya menyusut.

“Saya tidak menginginkan itu jika Anda tetap akan mengutarakan hal itu. Tidak sekarang atau kapan pun.”

Putri Indrapuri menggeser dua piring ke sisi meja, kemudian melipat tangan hingga badannya terlihat tegap.

“Jika Anda bersikeras mengatakan hal itu, mohon maaf, saya pikir tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk mengutarakan hal itu. Alangkah baiknya menyimpannya untuk perempuan berikutnya yang Anda temui di kehidupan Anda. Saya bersinggungan dengan Anda secara profesional, sampai bencana ini berakhir. Jika ada kepentingan pribadi yang hendak Anda katakan kepada saya, saya juga berpikir bahwa saya tidak akan mampu menyelesaikannya untuk Anda. Biarkanlah saya menyelesaikan tugas kewartawanan saya untuk orang-orang yang mengharapkan perubahan dan perbaikan segera. Toh, harapan ini telah digantungkan di pundak Anda oleh rakyat-rakyat Anda. Anggaplah saja saya bekerja sama dengan Anda menyambungkan harapan ini dari bawah ke atas demi kehidupan-kehidupan yang rukun kembali berlangsung di sekitar Anda. Bukankah Anda menginginkan hal yang sama dengan saya? Tanggung jawab lebih penting dari sekadar perasaan. Jika Anda disibukkan oleh wanita, hidup Anda berantakan, keluarga Anda tak terperhatikan; lalu mereka ikut berantakan juga sebagaimana jalan hidup yang Anda pilih, kemudian rakyat-rakyat Anda akan mengolok-olok Anda karena tidak becus mengurus daerah. Bukankah hal begini sudah sering terjadi. Kami perempuan tidak mudah ditipu. Kami berakal sebagaimana laki-laki. Hanya saja kami sering merenung apakah seorang laki-laki benar-benar mencintai perempuanya jika sedang berjaya? Sebab itu, saya ingin Anda tidak melanjutkan rencana-rencana Anda, karena saya sudah memutuskan untuk menolak Anda. Perempuan yang melahirkan anak-anak Anda tentu akan sangat membenci saya lebih-lebih karena saya lebih cantik dan segar ketimbang dia. Apakah Anda tega menyakiti hati istri Anda? Maaf jika saya harus bersikap lancang. Tetapi inilah kenyataannya. Mudah-mudahan saya tetap diterima seterusnya di pendopo demi rakyat-rakyat Anda…. Dan saya tetap menghormati Anda atas kemurahan hati Anda. Terima kasih atas traktirannya. Sekarang saya akan kembali ke pekerjaan saya.”

Saat kemudian Putri Indrapuri keluar, dan Mullah Kunti melihatnya melangkah, dua puluh meter ke arah kiri restoran, Doles Taming terbaring tidak sadarkan diri. Orang-orang mengerubunginya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Hidungnya dilumuri darah. Sebelum meleyot dan runtuh, ia sempat membekap darah yang mengucur dari hidungnya dengan kedua tangan. Ia terus menekan kucuran darah yang seperti ditombak lembing sampai akhirnya ia benar-benar tumbang.

Ia terbangun di rumah sakit karena seorang perawat menyentuh-nyentuh hidungnya. Ia menampik tangan si perawat dan segera melepas selang yang tertaut ke tangannya. Ia keluar dari rumah sakit dengan berlari dan mendapati langit tidak mengabarinya keberadaan Putri Indrapuri. Ia naik ke lereng gunung menjelang Magrib. Tetapi ia hanya melihat kehampaan di petala langit Pidie dan Indrapuri. Dalam kekhawatirannya, ia menyusuri bukit barisan, menerawang sembari membacakan mantra-mantra. Tetapi ia tidak juga mengendus tanda-tanda keberadaan kekasihnya. Ia turun lagi ke kaki gunung. Lalu naik lagi. Menerawang. Kemudian turun ke kaki gunung dan pada suatu bidang tanah ia tergeming. Jantungnya berdegup kencang. Ia menelungkupkan seluruh badannya ke tanah. Menempelkan telinga kiri dan kanan secara bergantian dalam tempo waktu yang cepat, seperti hendak memastikan detak jantung bumi. Kemudian ia bertinggung. Menempelkan telapak tangan ke tanah. Menengadah ke langit dan, mulai menaruh suatu curiga pada Mullah Kunti.

2.

Dialah perempuan yang meliput berita tentang Doles Taming yang berhasil mengusir hujan pada acara pembukaan Pesta Rakyat Kabupaten Pidie tiga bulan silam. Seumur-umur, itu kali pertama Doles Taming dipuji habis-habisan dalam surat kabar. Ia berbesar hati berkat seorang wartawan yang berhati mulia itu. Ia mulai mencari tahu tentangnya dan, mereka berpapasan di depot air isi ulang secara sangat kebetulan saat Doles Taming mengangkat galon air di bahu dan Putri Indrapuri muncul dari pertigaan dengan motor Scoopy coklat. Sebenarnya, perjumpaan semacam itu dapat terjadi sesering mungkin, tetapi saat-saat memandang seperti itulah Doles Taming akan meleyot dan segera mimisan.

Seperti burung yang naik ke langit, perasaan berbunga-bunga seketika melambung dan Doles Taming kerepotan mengantisipasi lubang hidungnya yang gampang berdarah dan kepalanya merasakan pusing yang menohok. Sebab itu, pada kebanyakan waktu ia mendaki lereng gunung dan tubuhnya mulai menyadari bahwa apabila ia berjarak kurang dari sembilan puluh meter dari perempuan itu, ia dapat kehilangan kendali atas tubuhnya, dan bahkan kehilangan pikiran.

Putri Indrapuri bahkan tidak melirik ke arah depot air isi ulang; ia melintasi pertigaan seperti orang lain melintas di pertigaan. Lebih-lebih, ia tidak tahu dan tidak akan pernah tahu betapa hari demi hari sepotoh hati di dalam tubuh pawang hujan itu telah berubah menjadi kebun bunga—buset. Ia melihat laki-laki itu sekali dalam hidupnya dan hanya sebagai fenomena yang mengguncang seantero Pidie dan layak diberitakan dalam surat kabar. Setelah itu, ia tidak tahu-menahu soal pawang hujan yang telah dibuatnya jatuh cinta. Meskipun begitu, dialah Doles Taming si pawang hujan yang tidak mengharapkan balasan cinta atau apa pun. Laki-laki seperti dia bahkan tidak mengerti apa yang tengah dialaminya di dalam hatinya. Ia hanya dapat memberi apa yang ia punya dari kesaktiannya: Memayungi perempuan kesayangannya dengan awan ke mana pun ia pergi.

3.

Saat ia tahu kepala negara kerap mengundang Putri Indrapuri ke pendopo, perasaan Doles Taming mulai tak enak. Keculasan dapat dilihat dari tarikan garis wajah. Sampai-sampai kepala negara itu tidak bisa menyembunyikan kecurangannya dari caranya menyengir dengan bibir kiri saat ia mengobrol dengan Putri Indrapuri. Nyatanya kemarahan Doles Taming pada Mullah Kunti diperkuat oleh kedatangan si presiden ke Pidie. Sehalus apa pun permainan dua pejabat itu, Doles Taming bisa mengendus kebusukan yang berusaha dijalankan oleh dua durjana itu.

Namun, di sisi lain, Doles Taming merasa tidak kurang alasan Mullah Kunti menyebut dirinya biadab sebab telah menenggelamkan orang-orang yang tidak bersalah semata-mata karena perasaan marahnya kepada Mullah Kunti. Di luar dugaan si pawing hujan, di papan reklame telah terpampang wajahnya dan orang-orang mulai memburu tempurung kepalanya. Maka ia berlari sepanjang kaki bukit barisan mencari keberadaan kekasihnya di tengah-tengah dirinya diburu oleh orang-orang. Tetapi ia tidak ambil pusing soal pemburuan itu; tidak peduli terhadap dirinya sendiri. Namun, dari hari ke hari Mullah Kunti kian merepotkan pergerakan Doles Taming, membuatnya mau tak mau harus mencari jalan keluar agar ia tak mati hina di tangan Mullah Kunti.

Di tengah kelelahannya, pawang hujan itu dibuat terkencing-kencing dan terberak-berak oleh tombak-tombak para pemburu dan orang-orang suruhan Mullah Kunti. Ia menyuruk di antara semak belukar dan pohon-pohon; membungkuk menghindari ujung maut. Setiap kali berhasil menyingkir, ia menoleh ke belakang dan mendapati para pemburu kian bertambah. Tombak-tombak berdesing di telinganya. Namun, ia terus berlari hingga suatu kali langkahnya tersandung akar pohon dan bangkit lagi dan di tengah ia bangkit itu sebilah tombak melesat melukai lengan kirinya. Ia mengerang sambil terus berlari; berupaya setengah mati menyeimbangkan langkah-langkah kakinya. Sepanjang pelariannya, luka itu dibekapnya dengan daun-daunan yang ia cerabut sekenanya. Berkali-kali ia lakukan itu sampai akhirnya sampai di batas lembah. Ia menoleh lagi ke belakang dan tidak melihat satu pun para pemburu, barulah ia merasa sedikit lega dan bisa bernapas dengan ringan. Dalam pada itu, si pemilik tombak menyisih darah yang menempel di ujung tombak dan menyerahkannya kepada dukun suruhan Mullah Kunti.

Sejak hari itu, Doles Taming tidak keluar barang sehari pun dari lembah. Ia terus memandangi langit menunggu tanda-tanda keberadaan Putri Indrapuri. Sementara di Indrapuri, selebaran berita kehilangan sudah tersebar. Namun, tidak hanya diam. Ia mulai mempengaruhi seekor burung. Dilatihnya burung itu untuk mengitari langit Pidie dan Indrapuri. Setiap terbenam matahari, burung itu pulang ke lembah. Dari atas langit, burung itu berbicara kepada Doles. Dan seringkali ia menerima kabar buruk dan wajahnya berubah menjadi murung. Sementara itu, burung-burung lain ia latih menjadi kuat saat mencengkeram batu. Enam puluh dua hari ia latih burung-burung itu mengangkut dirinya yang tak ringan ke langit. Pada hari keenampuluh, daun telinganya copot dan bajunya koyak, dan Doles mulai menyadari bahwa cengkaman-cengkaman pasukan ababil itu benar-benar menjelma seperti besi yang kokoh tak tertaklukkan.

Tiga belas hari menjelang pembalasan, Doles mengusir hujan ke Beutong Ateuh. Pidie kering kerontang. Dan malam hari di mana ia memutuskan mengirimkan pasukan ababil itu, Doles bersila di tengah-tengah lembah memejamkan mata dan merapalkan mantra-mantra, lalu burung-burung itu berarak mengangkut batu-batu api melintas di atas para penduduk. “Kembang api… kembang api.” Teriak anak-anak. Saat kemudian pendopo dan kediaman Mullah Kunti diganyang api, Doles membuka mata dan segera menangis, karena selamanya ia tak akan pernah bisa menemukan lagi perempuan itu; selama apapun ia mencintainya.

baca juga: Kepada Duemmei: Bonsai Dan Rencana Membangun Museum

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Pagi dan Bunganya

Di pesantren kecil yang berdiri tenang di ujung kampung, pagi selalu datang lebih awal daripada kesibukan manusia. Suara ayam...

Lebih Banyak Artikel Seperti Ini