Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa. Ia tidak membawa harta, tidak membawa pangkat, dan tidak membawa gelar. Namun Allah menganugerahkan sesuatu yang sangat mulia: akal untuk belajar dan ilmu untuk memahami kehidupan.
Karena itulah dalam Islam, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah berfirman:
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini memberi pelajaran penting bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan yang mengangkat derajat manusia.
Banyak orang ingin dihormati karena harta. Ada yang ingin dihargai karena jabatan. Ada pula yang ingin dikenal karena popularitas. Namun semua itu bisa hilang dalam sekejap.
Harta bisa habis.
Jabatan bisa dicabut.
Popularitas bisa dilupakan.
Akan tetapi, ilmu yang bermanfaat akan tetap hidup, bahkan setelah seseorang meninggal dunia.
Inilah sebabnya para ulama mengatakan bahwa ilmu adalah warisan para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu yang menerangi kehidupan manusia.
Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama:
Apakah ilmu yang kita cari benar-benar mengangkat derajat kita?
Sebab, tidak semua ilmu menjadikan seseorang mulia. Ada yang semakin berilmu, tetapi semakin sombong. Ada pula yang semakin tinggi pendidikannya, namun semakin jauh dari adab.
Padahal para ulama sejak dahulu telah mengingatkan:
ilmu tanpa adab tidak akan membawa keberkahan.
Di pesantren, kita diajarkan bahwa sebelum ilmu, ada sesuatu yang lebih utama, yaitu adab—menghormati guru, menghargai sesama, menjaga lisan, dan membersihkan hati dari kesombongan.
Hakikat ilmu bukan sekadar mengisi kepala, tetapi juga membersihkan hati dan memperbaiki akhlak.
Jika ilmu tidak membuat seseorang menjadi lebih rendah hati, maka ada yang perlu diperbaiki dalam cara ia menuntut ilmu.
Mari kita renungkan sejenak.
Berapa banyak orang yang tinggi ilmunya, tetapi tidak dihormati?
Dan berapa banyak orang yang ilmunya sederhana, namun dicintai karena akhlaknya?
Di sinilah kita memahami bahwa ilmu yang mengangkat derajat manusia adalah ilmu yang mendekatkan kepada Allah.
Ilmu yang menjadikan kita lebih sabar.
Ilmu yang menjadikan kita lebih jujur.
Ilmu yang menjadikan kita lebih menghargai orang lain.
Bagi seorang santri, menuntut ilmu bukan sekadar membaca kitab, menghafal pelajaran, atau mengejar nilai. Menuntut ilmu adalah perjalanan memperbaiki diri.
Setiap halaman yang dibaca seharusnya menyadarkan kita betapa sedikitnya ilmu yang dimiliki. Setiap pelajaran yang didapat seharusnya menjadikan kita semakin rendah hati.
Imam Syafi’i pernah berkata:
“Semakin aku bertambah ilmu, semakin aku mengetahui betapa banyak yang tidak aku ketahui.”
Inilah sikap pencari ilmu sejati: semakin berilmu, semakin merasa kecil di hadapan Allah.
Hari ini kita menyaksikan bagaimana Allah mengangkat derajat orang berilmu. Muncul sosok Tgk. Habibi An Nawawi, Lc., M.Dipl, yang menjuarai Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026 di televisi nasional. Ia adalah seorang santri yang menempuh pendidikan berbasis dayah, memulai pendidikan formal di SDN Meutulang (2005–2011), sembari mengenal dasar-dasar agama di Dayah Bustanul Mu’arif, Aceh Barat.
Perjalanan keilmuannya berlanjut ke SMP IT Darul Amilin, Aceh Selatan (2011–2013), lalu memperdalam ilmu agama di Dayah Terpadu Ulumuddin, Lhokseumawe (2014–2017). Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Dayah Darul Huda Lueng Angen, Aceh Utara (2017–2020), sebelum merantau ke Jawa Timur untuk belajar di Markaz Al-Adni, Pasuruan (2020–2021).
Langkahnya berlanjut hingga ke Timur Tengah. Ia menempuh pendidikan di Yaman (2021–2025) dan kini melanjutkan studi di Holy Quran & Islamic Sciences University.
Sisi lain kelebihan Tgk. Habibi An Nawawi dari kacamata penulis adalah sikap sopan santun yang tinggi serta ketakziman yang begitu kuat kepada para guru. Nilai adab tampak melekat dalam setiap tutur kata dan sikapnya.
Dalam berdakwah, ia memiliki kemampuan memilih diksi yang sangat tepat—bahasanya relevan, mudah dipahami, dan jauh dari kesan menyerang, menuduh, ataupun menyakiti perasaan orang lain. Tema-tema yang diangkat pun terasa dekat dengan kehidupan hari ini, khususnya bagi kalangan muda.
Lebih dari itu, raut wajahnya yang teduh dan menenangkan seolah memancarkan cahaya ilmu. Setiap ayat dan hadits disampaikan dengan lancar, fasih, dan penuh keyakinan, menunjukkan penguasaan ilmu yang mendalam. Keilmuan itu tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa—bahwa ia memang seorang yang alim.
Artikulasi setiap kalimat yang disampaikan pun tertata rapi dan nyaman di telinga, sehingga pesan dakwahnya mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Namun, di balik semua itu, ada kekuatan besar yang tidak terlihat: doa dan dukungan orang tua. Ayahnya, Abon Sabirin Nawi, menanamkan nilai pendidikan dengan sangat kuat, bahkan pernah berpesan tegas agar Habibi tidak pulang ke kampung halaman selama 20 tahun, melainkan tetap berada dalam “ladang ilmu”.
Doa yang tulus serta dukungan penuh dari kedua orang tuanya menjadi salah satu kunci keberhasilan yang patut diteladani. Ini menjadi pelajaran penting bagi para orang tua hari ini—bahwa keteguhan, kesabaran, dan doa dalam mendidik anak, baik di dayah, pesantren, maupun lembaga pendidikan formal lainnya, memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap masa depan mereka.
Tidak hanya itu, ada sosok yang tak kalah kuat di balik perjalanan Habibi, yaitu sang ibu, Ummi Salfina Ali. Kesabarannya dalam menanggung rindu terhadap anak lelaki tercintanya menjadi bukti keteguhan hati seorang ibu dalam mendukung perjuangan ilmu.
Bertahun-tahun berpisah demi pendidikan bukanlah hal yang mudah. Rasa rindu yang dipendam, doa yang terus dipanjatkan, serta harapan yang tak pernah padam menjadi bagian dari perjuangan yang sunyi, namun penuh makna.
Tangis itu akhirnya pecah di hadapan penonton, di panggung AKSI Indosiar, saat Habibi dipertemukan kembali dengan kedua orang tuanya. Momen tersebut bukan sekadar pertemuan biasa, tetapi menjadi gambaran nyata betapa besar pengorbanan dan keteguhan seorang ibu.
Bayangkan bagaimana kuatnya hati seorang ibu yang rela menahan rindu demi masa depan anaknya. Inilah teladan yang patut dicontoh—bahwa di balik kesuksesan seorang anak, ada kesabaran, doa, dan keikhlasan orang tua yang luar biasa.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi para orang tua lainnya dalam mendidik dan menguatkan anak-anaknya di jalan ilmu.
Keberhasilan Tgk. Habibi An Nawawi bukan sekadar popularitas, tetapi bukti nyata bahwa ilmu yang disertai adab dan keikhlasan mampu mengangkat seseorang menjadi mulia, dihormati, dan dicintai masyarakat.
Allah kembali menegaskan:
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
Ayat ini mengingatkan bahwa orang berilmu memiliki kedudukan yang berbeda—bukan karena dirinya, tetapi karena cahaya ilmu yang Allah titipkan kepadanya.
Maka wahai para penuntut ilmu, jangan pernah lelah belajar. Mungkin hari ini kita hanya duduk di majelis ilmu dengan kitab di tangan, tetapi suatu saat ilmu itu akan mengangkat derajat kita, baik di dunia maupun di akhirat.
Bukan hanya mengangkat diri kita, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan umat.
Dan yang paling penting untuk kita renungkan:
Ketika kelak kita kembali kepada Allah, yang akan ditanyakan bukanlah seberapa banyak ilmu yang kita miliki, melainkan sejauh mana ilmu itu kita amalkan.
Karena pada akhirnya,
ilmu yang sejati adalah ilmu yang mengubah manusia menjadi lebih baik.

