Karena aku tidak bicara denganmu di depan khalayak ramai, maka aku menulis surat sebagai bentuk penghormatan dan keteguhan hatiku. Jika nanti surat ini berhasil sampai kepadamu, mengertilah bahwa ini adalah perasaanku yang mulanya amat sangat redup dan kini kucoba perlahan menerangkannya kepadamu. Surat ini kumaksudkan untukmu, mengenai balasannya, itu urusanmu. Tetapi ini, tentang bunga hatiku….
Bila nanti yang kaupahami dari suratku omong kosong belaka, itu sepenuhnya karena kupercaya bahwa kau adalah perempuan yang bernalar, meski terkadang aku dapat melihat celah andai kau mau sebentar saja merenungkannya lagi, kau akan mengerti bahwa aku mencintaimu seperti batu yang tenang. Namun aku tidak akan memintamu untuk melihat demikian pula karena aku mengerti bahwa setiap orang berdaulat atas dirinya sendiri. Tetapi ini adalah hatiku. Perlu rasanya kutulis surat ini kepadamu sehingga kau mengerti bahwa aku tidak pernah memikirkan tentangmu sekali saja dalam sehari.
Bunga-bunga menjadi kuyu ketika engkau mulai menjauh. Jarak itu kemudian terasa seperti pukulan ribuan tangan ke jantungku. Tetapi, baiklah, aku adalah batu yang tenang dan mesti selalu berada di antara endapan-endapan yang tak terlihat, sebagaimana kita telah menjaga jalinan ini tidak mencuat di permukaan. Dan dari hari ke hari aku merasa seakan arus besar membelah daratan rentang demi rentang dan membawa masing-masing kita berjarak satu sama lain. Itu kenyataan pahit pertama yang kuterima sejak hari kujatuhkan hatiku kepadamu. Entah itu pikiranmu sendiri atau kesalahan yang kautemukan padaku menyebabkan bencana ini yang lalu membuatku harus mengungsi ke dalam ruang dan waktu yang kelam.
Maksudku, bisakah kita kembali ke tempat pertama kali kita bertemu dan berbincang tentang rencana-rencana kita lagi? Aku harus keluar dari bencana ini sebagai pecinta yang selamat dan membawa kepadamu rasa sayang yang masih utuh. Sekurang-kurangnya inilah yang bisa kukatakan sekarang, kalau kau masih melihat diriku sebagai laki-laki yang goyah.
Pada saat kau menghadiahkan bunga-bunga itu untukku, itu sudah hari kedelapan aku mencintaimu, ( maaf, jika terkesan berlebihan. Tetapi ini adalah hatiku ). Kemudian aku tidak seganjak pun memindahkan bunga-bunga itu dan hanya membiarkannya di mana pertama kali kau meletakkannya. Kurawat mereka. Kupandangi mereka dengan hati yang berbunga-bunga—setidaknya itu yang kurasakan—lalu setiap ada yang menanyakan, “Ini bunga apa?” aku menjawabnya sekaligus menyebutkan namamu “yang memberikan bunga-bunga ini”, dan hal ini yang tak kau suka. Mungkin. Aku tidak begitu mengerti. Sampai saat ini aku masih mencoba melacak kemungkinan-kemungkinan kesalahanku.
Barangkali juga ada yang datang kepadamu dan mengembuskan kabar tak mengenakkan tentangku; bahwa banyak cinta yang datang. Meskipun kabar itu tidak bisa dibilang keliru, tetapi ini adalah hatiku, Duemmei. Umpama bunga-bunga, kau satu-satunya bunga merak itu yang kusayang-sayang. Hanya dirimu yang terlihat, semua mereka hilang, seakan terkena tipu daya pesulap. Inilah kabar baik untukmu, walaupun mungkin sekarang kau sudah sangsi denganku.
Melihat sepatu putihmu saja sudah cukup menjadi kabar baik untukku.
Aku telah melewati masa-masa getir tanpa kabar tentangmu. Satu-satunya pekerjaanku hanyalah mengurus bunga-bunga. Menghidupi mereka dengan sungguh-sungguh. Aku telah kehilangan arahmu, dan setidaknya aku tidak kehilangan mereka lagi. Melihat mereka aku melihat dirimu. Sebagaimana suatu waktu, ujung mataku sayup-sayup menangkap bahwa kau melintas di tamanku dan mencuri-curi pandang ke arahku. Sampai aku bertanya-tanya apakah benar itu kau yang berkelebat bagai cahaya dan menggetarkan sekujur tubuhku?
Maka, pada hari Selasa yang panjang, setelah pekerjaan yang melelahkan, aku menyempatkan mampir ke tempatmu. Kau keluar dengan wajah kusut dan pelupuk mata yang berat. Kau kurang enak badan.
“Apa kabarmu?” Tanyaku.
“Kurang sehat seperti yang kaulihat. Ada apa?”
“Aku hanya ingin menyapa.”
“Iya. Tapi ada apa?!” Suaramu meninggi.
“Mereka tumbuh sehat.”
“Dua puluh empat kali aku mendengarnya,”
“Bukankah itu kabar baik?”
“Kabar baik tapi bukan di waktu yang tepat.”
“Mengapa kau sangat susah dihubungi?”
“Orang kurang enak badan nggak selera ngomong.” Katamu ketus.
Setelah itu kau menutup pintumu dengan tatapan mata orang kurang enak badan.
Pada dasarnya, aku sangat senang bisa berbagi segala sesuatu denganmu meskipun aku tidak bisa menyampaikan keseluruhannya. Itu, ’kan, yang selalu kita lakukan. Saat seperti itu… adalah saat kau mau berbagi senyum denganku, sementara pembicaraan kita berjalan di sekitar museum masa depan. Dan sekali waktu, pada sebuah siang yang lain, betapa kau berkaca-kaca mendengarkan mimpiku membangun sebuah museum kecil:
“Apa koleksimu, kalau boleh tahu?” Tanyamu.
“Bonsai.”
“Bonsai?”
“Bonsai pohon-pohon di hutan Barus.”
“Kenapa harus Barus?”
“Beringin di Barus tidak pernah dibiarkan tumbuh melewati punggung anak gajah dan memiliki pesona daun yang padat. Aku ingin memilikinya lebih banyak lagi, dan menjejalnya di mana Tuhan menakdirkan tempat mereka.”
“Kau beruntung sekali.”
“Ya?”
“Kau orang yang beruntung karena mempunyai mimpi.”
“Setiap orang punya mimpi. Aku beruntung karena kau berada dalam mimpiku.”
Wajahmu menahan senyuman itu.
“Mau kutunjukkan sesuatu?”
“Sesuatu? Apa itu? Kau membuatku penasaran.”
Lalu aku membawamu berjalan melintas di antara bunga-bunga sebelum kemudian berjalan menekan lutut di bawah cabang-cabang ikawet, dan meraih pintu rumah kaca. Kita melangkah masuk.
“Mendekatlah kemari,” kataku. “Coba lihat ini.”
“Kau gila!” Kau berdecak dan terperangah. “Belum pernah aku melihat bonsai seperti ini. Kau benar-benar gila.”
“Ini tengkorak pembalak hutan di Sibolga. Butuh waktu tujuh belas jam menyatukannya dengan akar.”
“Ini sungguhan?”
“Iya, sungguhan.”
Raut wajahmu tak percaya, matamu tidak beranjak sedikit pun dari akar itu. Aku terkekeh sebelum kemudian melanjutkan bicara:
“Cerita di baliknya panjang; aku tengah menanjak di tanah landai saat kepala si laki-laki menggelinding tepat ke arahku, lalu menghentikannya dengan tumit sepatuku. Darahnya yang masih segar memercik ke celana dan sepatu. Saat itu hari hampir gelap….”
“Kau yakin akan menceritakannya kepadaku?”
Aku menyengir.
“Maaf. Baiklah. Kalau begitu, akan kutunjukkan koleksi yang lain setelah kau selesai dengan yang ini.”
Kau menebar pandanganmu ke sekeliling.
“Ternyata kau merawat banyak barang bagus. Aku tidak pernah melihat mereka hampir semuanya. Kecuali yang itu,” kau menunjuk bonsai Azatte, “kau pernah meletakkannya di sisi pintu taman.”
“Sebenarnya bukan hanya itu. Kau selalu terburu-buru saat pulang dari tempatmu bekerja, itu sebabnya kau melewatkan momen mereka.”
Kau menoleh ke arahku, dan terdiam beberapa saat seperti memikirkan sesuatu.
“Kau sering menyinggung soal bunga merak. Apa kau sungguh-sungguh bertanya soal bunga merak?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Kau menyebalkan. Apa itu sebuah pertanyaan yang sungguh-sungguh?”
“Sebenarnya aku hanya menyadari bahwa ada hal yang susah dimengerti apabila hanya dikatakan. Sebab itu aku kesulitan bicara denganmu.”
“Semuanya mengalir seperti biasa selama kau bicara denganku.”
“Ada hal yang susah dikatakan, dan lebih mudah dilakukan.”
“Maksudmu?”
“Kau pasti ingat, kapan terakhir kali aku bertanya soal bunga merak kepadamu?”
“Sabtu yang lalu.”
“Aku tidak memindahkan mereka hingga detik ini. Aku lebih suka melihat mereka di tempat semula kau meletakkannya.”
“Menyebalkan. Kau tidak terus terang denganku.”
Itu karena kata-kata tidak mampu mengurai seperti apa perasaanku kepadamu. Dan surat ini hanyalah sebagian renik dalam perasaanku teruraikan nyaris tak beraturan. Maka terkadang saat kita berjumpa, aku memilih tidak menatap matamu karena khawatir kelak aku harus terbebani tuntutan makna yang untuk mengungkapkannya aku tidak mempunyai kata-katanya dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bagaimana bisa aku melupakan perempuan sepertimu, Duemmei, yang cantik tetapi tidak pernah berusaha untuk terlihat cantik.
Maksud kedatanganku hari itu hendak memastikan apakah itu benar-benar kau yang melintas di bawah benang-benang hujan yang merintih dan tersamarkan di balik tamanku? Tetapi kau justru memperlakukan aku demikian dingin. Bicara denganmu seperti berhadapan dengan batang kayu. Dan itu gerak laku pertama yang kutangkap bahwa kau mulai melihat diriku sebagai orang asing lagi. Ingin kuketuk lagi pintumu, tetapi aku yakin kau sudah memunggungi dan meninggalkan ambang pintu. Lalu aku segera pulang meninggalkan tempat tinggalmu dengan pikiran bahwa suatu saat nanti aku akan menulis surat ini dan mengirimkannya kepadamu apabila aku rindu, apabila kau sangsi denganku, apabila kau masih berpikir bahwa aku hanya seliweran saja di hatimu.
Dan untuk kesekian kali, aku mengatakan bahwa aku tidak bisa menentukan untuk siapa cinta yang kugenggam. Karena itu sepenuhnya urusan hatiku. Jika bertanya kenapa aku memilihmu, maka tidak akan ada jawaban yang mampu memuaskan hatimu. Saat kau mau menerima kenyataan bahwa aku mencintaimu, saat itu juga kau bisa merasa tenang, dalam keadaan kau menerima aku atau tidak. Tidak ada jawaban untuk pertanyaan ‘kenapa’ dalam hal cinta, memikirkannya hanya akan mengurangi ketajaman pikiran kita.
Maka, saat kau minta aku untuk memikirkan alasanku, “cobalah kamu pikir,” katamu suatu pagi, sebenarnya kau sudah ada di kepalaku dan mengapa hal itu terjadi telah membuatku setengah gila oleh bayang-bayang kebenarannya. Kau memandangku sekali, dan aku telah memikirkanmu seribu kali. Kutandai sepatumu, lalu kuikuti ke mana kau dibawa angin. Kutandai siluetmu, kutunggu kau di jalan pulangmu. Kutandai suaramu, dan kuingat-ingat garis senyummu.
Duemmei, aku tidak sedang berupaya menggiringmu untuk merenungkan sebesar apa perasaanku, bahkan tidak untuk menilai diriku sebagaimana aku menilai diriku sendiri. Kita adalah penilai yang buruk untuk diri kita sendiri. Tetapi itu semua hanya yang kualami dan kurasakan. Kau boleh melihatnya dengan cara yang berbeda; aku hanya mengerjakan pekerjaan taman, dan kau boleh menilai kalau aku laki-laki yang kesepian. Kau juga tahu aku seorang penulis, tetapi kau boleh mengatakan aku orang yang tidak pandai berteman. Nilailah aku sesuka hatimu, aku tidak akan terganggu. Sebagaimana aku tidak terganggu saat mendapati kekuranganmu.
Saat menggenggam tangkai bunga, dilarang menyalahkan duri jika terluka.
Setelah sampai di tempatmu Selasa itu, sebelum mengetuk pintumu, kuputar lagi waktu pertama kali kita bertemu dan berharap kau melihatku dengan pandangan mata yang berbinar dan senyuman yang merekah. Tetapi bukan itu yang terjadi. Dan kini itu bukanlah sebuah masalah. Kurasa aku harus tenang dengan situasimu. Dan kupikir aku harus segera membatasi diri sebab sudah barang tentu aku akan menyakiti diriku lagi jika melulu berurusan dengan pengharapan-pengharapan yang tidak berpihak kepadaku. Lihatlah, mengingatmu saja seperti telah menusuk jantungku sendiri.
Terlebih aku mulai mengenal sisi buruk pengharapan, ketika segala sesuatu terjadi tidak menurut kehendakku. Maka aku mengerti bahwa semua yang berada di luar kendaliku semestinya berada di luar kepalaku. Ketika kau berada jauh dariku seharusnya aku tidak bilang kangen. Tetapi itulah kenapa kukatakan kepadamu bahwa tak akan ada jawaban untuk pertanyaan ‘kenapa’ dalam peristiwa cinta. Bersembunyi di dalam tanah pun aku akan tetap ditemukan oleh rasa kangen kepadamu. Perasaan itu seperti angin kencang yang menerpa setiap sisi hatiku. Aku tengah berusaha keras untuk tetap tenang dengan situasi tersebut. Jauh atau pun dekatnya kau denganku.
Duemmei, sampai surat ini kelak kaubalas, aku tidak akan marah dengan keadaan sekarang. Tidak sama sekali. Aku tidak ingin mengenalkan kepadamu cinta yang marah. Tetapi justru dengan terkirimnya surat ini kepadamu aku bisa mengurangi rasa nyeriku—alasan kesekian di antara yang telah kusebutkan di atas—yang kerap menyerang batang leher ketika malam mulai memuncak. Kubenamkan kepalaku di bawah bantal dan mengerang menekan perasaan sakit yang terkadang aku sendiri tidak mengerti. Dan saat Subuh jatuh, aku mulai bersendiri dengan kelelahan yang merambati tulang-tulangku.
Aku sering disalahpahami dan dikelirukan bahwa aku ini orang yang tidak ramah. Orang-orang gampang sekali terkecoh bahwa saat seseorang lelah dibilang payah. Saat marah dibilang tidak ramah. Mereka bersinggungan denganku sekali tetapi menilaiku tujuh puluh empat kali. Nyatanya belakangan ini aku dirundung kemalangan berkali-kali. Bonsai-bonsai yang kubawa pulang dari berbagai tempat ditimpa dahan pohon yang patah. Dan tiga hari kemudian sederet aglonema dihujam patahan dahan yang lebih besar. Lihatlah, terna yang tongkolnya lemah itu mengalami ujian yang lebih besar dan harus terluka karena ketidakberdayaannya sebagai tumbuhan. Ditambah lagi kejadian yang cukup lucu ketika tamanku kemasukan seekor biawak dan melenyapkan bunga-bunga ikawet. Maka kemudian aku memutuskan untuk memindahkan mereka semua ke tempat yang agak berjarak dari persemaian. Termasuk bunga-bunga merak pemberianmu. Di bawah pohon besar itu sekarang kuhamburkan batu hias dan kuinstal sepasang bangku dan meja untuk bersantai.
Aku akan marah di satu waktu, saat rencanaku diganggu.
Selama pembenahan taman itu kita sempat beberapa kali berjumpa dan mata kita saling bertemu seakan itu selalu pandangan pertama. Tentu kau mengingatnya, Duemmei. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa aku telah mengabaikan sapaan dan senyumanmu selama hari-hari itu; misal saat kita kebetulan berada dalam satu ruangan. Aku tahu di tengah kesibukanmu itu kau melempar senyum kepadaku, tetapi gunungan pikiran menguburku dalam-dalam sampai aku bingung cara membalas kemurahan hatimu. Aku terlalu lemah untuk menghindari sifat alami itu sebab pikiranku berkutat di cabang pohon. Dan kautahu, aku kurang cakap menceritakan semua kejadian yang menimpaku kepadamu selain karena memang kau sangat kuhormati. Aku tidak ingin membebankan masalahku kepadamu. Meskipun cinta kita sama, tetapi kita begitu berbeda dalam banyak hal.
Dan pada akhirnya, mungkin, sikapku itulah yang telah membuatmu merasa bahwa aku ini tidak membutuhkanmu. Sungguh aku membutuhkanmu, Duemmei, bahkan di saat-saat aku mampu menghadapi semuanya sendiri. Biarlah kau dengan kesibukanmu, membuat kita kadang-kadang jarang bertemu. Tetapi aku akan selalu ingin mendengar suaramu mengisi kehidupanku; mengisi museum masa depan kita. Bahkan, ketika kau sudah tak ada lagi bersamaku, aku ingin bertanya lagi kepada Tuhan ibadah apa yang pahalanya adalah kamu.
Baca juga : Jadi Tiang, Dinding, Mobil Atau Pagar

