Willian Kasmadi dan Perjuangan Menjadi Santri Mandiri

Wajib Baca

Oleh : Muhammad Ghifar Elkhairi, Tugas Jurnalistik “Feature” Kelas Media dan Jurnalistik

Ketika sebagian santri masih terlelap, Willian Kasmadi telah lebih dahulu bangkit dari tempat tidurnya. Dalam sunyi pagi yang menyelimuti asrama, ia bersiap menunaikan salat tahajud. Tak berhenti di situ, Al-Qur’an dan pelajaran yang pernah diberikan gurunya menjadi teman untuk mengawali hari. Baginya, pagi bukan sekadar pergantian waktu, melainkan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. sekaligus mempersiapkan diri menghadapi aktivitas sebagai seorang santri.

Kebiasaan itu menjadi salah satu gambaran keseharian Willian di Pesantren Modern Al-Manar. Di tengah padatnya kegiatan pesantren, ia berusaha menjaga keseimbangan antara ibadah, belajar, dan kemandirian. Dari rutinitas sederhana itulah, saya melihat semangat seorang santri yang terus berusaha memperbaiki diri, selangkah demi selangkah.

Waktu subuh pun tiba. Bersama santri lainnya, Willian menunaikan salat sunah qabliyah subuh sebelum melaksanakan salat subuh. Seusai salat, ia mengikuti kegiatan pembagian kosakata bahasa Arab atau mufradat. Dengan tekun, ia berusaha menghafal kosakata yang diberikan. Melihat semangatnya dalam mengikuti kegiatan bahasa, saya menilai Willian memiliki potensi untuk menjadi bagian dari pengurus bagian bahasa pada masa mendatang.

Aktivitas pagi berlanjut ke ruang kelas. Pukul 07.20 WIB, Willian sudah masuk kelas tepat waktu. Ia mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan penuh semangat dan menunjukkan sikap menghargai guru. Ketika bel istirahat berbunyi, ia memanfaatkan waktu untuk pergi ke masjid dan menunaikan salat duha dua rakaat. Setelah itu, ia kembali ke kelas untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar (KBM).

Semangat Willian tidak hanya terlihat dalam kegiatan belajar. Ia juga berusaha membiasakan diri menjalankan amalan-amalan sunah, seperti salat sunah, beristigfar, dan berzikir. Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari kesehariannya selama menempuh pendidikan di Pesantren Modern Al-Manar.

Dari Santri Pindahan Menjadi Bagian Kelas Unggulan

Menurut pengamatan saya, Willian merupakan santri yang baik, ramah, dan pintar dalam belajar. Ia adalah santri pindahan dari Pesantren Modern Darul Hijrah Al-Madaniyah. Willian Kasmadi lahir di Gayo Lues pada 10 Maret 2011. Willian merupakan anak ketiga sekaligus anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Ayah Kasim dan Ibu Sardiah. Ia memiliki dua orang kakak.

Dalam kesehariannya, ada kebiasaan kecil yang menjadi ciri khas Willian, yaitu penggunaan kata “anu” ketika berbicara. Kebiasaan sederhana ini menjadi salah satu hal yang mudah diingat dari dirinya.

Dalam urusan makanan, Willian menyukai sayur kangkung tumis, nasi uduk, dan berbagai makanan bergizi lainnya. Sementara itu, minuman favoritnya adalah jus alpukat yang dicampur dengan susu kental manis. Ia memiliki postur tubuh berisi dan kondisi badan yang sehat.

Perjalanan Willian di Pesantren Modern Al-Manar menyimpan cerita tentang keinginan dan perjuangan. Ketika pertama kali masuk, ia ditempatkan di kelas Intensif. Namun, ia memiliki keinginan besar untuk masuk ke kelas yang lain santri lama. Kesempatan itu datang ketika pesantren mengadakan seleksi untuk masuk kelas 4A dan 4B.

Willian mengikuti seleksi tersebut dengan harapan dapat menempati kelas yang diinginkannya. Alhamdulillah, setelah seleksi selesai, ia berhasil masuk ke kelas 4A. Ia merasa senang dan bahagia karena keinginannya tercapai. Baginya, keberhasilan tersebut menjadi kesempatan untuk belajar lebih giat dan bersaing secara sehat dengan teman-teman santri lainnya di kelas 4A.

Keberhasilan itu menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan pendidikannya. Keinginan yang disertai usaha telah membawanya memperoleh kesempatan untuk belajar di lingkungan kelas yang diimpikannya. Kini, ia memiliki tanggung jawab untuk terus belajar, menjaga semangat, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Kemandirian di Balik Kesibukan Pesantren

Di luar kegiatan belajar dan ibadah, Willian juga menunjukkan sikap mandiri. Ia sering menghabiskan waktu siangnya untuk mencuci pakaian sendiri. Kebiasaan ini dilakukannya agar dapat meringankan beban orang tua. Meskipun harus mencuci hingga keringat mengalir, ia tetap melakukannya dengan semangat.

Bagi saya, kebiasaan tersebut merupakan gambaran sederhana tentang bagaimana seorang santri belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Kehidupan di pesantren bukan hanya tentang mengikuti pelajaran di kelas atau menjalankan ibadah, tetapi juga tentang membangun kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Mencuci pakaian sendiri mungkin terlihat sebagai kegiatan biasa. Namun, bagi seorang santri yang tinggal jauh dari keluarga, kebiasaan itu mengajarkan arti kemandirian. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan tanpa selalu bergantung pada orang lain. Ada pula kepedulian kepada orang tua yang diwujudkan melalui tindakan sederhana.

Dari keseharian Willian, saya melihat seorang santri yang berusaha menata hidupnya melalui ibadah, belajar, dan kemandirian. Ia masih memiliki perjalanan panjang untuk ditempuh. Akan tetapi, kebiasaan baik yang terus dipelihara dapat menjadi bekal berharga dalam proses pendewasaan dirinya.

Begitulah keseharian Willian Kasmadi di Pesantren Modern Al-Manar. Dari bangun sebelum subuh, menghafal kosakata bahasa Arab, mengikuti pelajaran, hingga mencuci pakaian sendiri, setiap aktivitas menjadi bagian dari proses belajarnya. Semoga Allah Swt. senantiasa mempermudah setiap langkah Willian dalam menuntut ilmu selama tiga tahun ke depan di Pesantren Modern Al-Manar. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

32 Siswi MAS Al Manar Kunjungi Kantor Harian Serambi Indonesia

Laporan : Siti Aisyah, Kelas 1 Aliyah, Kelas Media dan Jurnalistik Sebanyak 32 siswi Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Al Manar...

Lebih Banyak Artikel Seperti Ini

2