Mengenal Haya, Komandan Upacara Hari Santri 2026

Wajib Baca

Oleh : Wafa Syahira, Kelas I Intensif Aliyah Al Manar, Kelas Media dan Jurnalistik

Berawal dari sekadar mencoba seleksi, Hayatul Husna akhirnya dipercaya menjadi komandan upacara Hari Santri Nasional 2026. Kesungguhan dan keberaniannya membuktikan bahwa potensi diri tak seharusnya disembunyikan.

Pagi itu, matahari bersinar cerah di atas lapangan Pesantren Modern Al Manar, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Barisan peserta upacara berdiri rapi, mengikuti setiap rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. Di tengah lapangan, seorang santriwati berdiri tegap. Tatapannya lurus ke depan, sikapnya mantap, dan suaranya menjadi bagian penting dalam mengatur jalannya upacara.

Dialah Hayatul Husna, santriwati yang akrab disapa Haya. Di hadapan para peserta dan tamu undangan, ia mengemban tanggung jawab sebagai komandan upacara. Sebuah amanah yang mungkin tak pernah benar-benar ia bayangkan sebelumnya.

Bagi orang-orang yang menyaksikan penampilannya, Haya tampak percaya diri menjalankan tugas. Namun, di balik ketegapan itu, ada proses panjang yang dilalui, keraguan yang sempat hadir, serta kesungguhan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu.

Haya lahir pada 8 April 2011. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Yuwita Sari dan Fauzan Nazradisyah, seorang wiraswasta. Ia tinggal di Gampong Lamdingin, Dusun Gano, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Di luar aktivitasnya sebagai santriwati, Haya memiliki ketertarikan pada berbagai kegiatan nonakademik. Ia menyukai olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler, seperti bulu tangkis, basket, silat, dan paskibra. Ia juga menyukai makanan seblak serta minuman matcha.

Menurut Haya, dirinya memang cenderung lebih aktif dalam bidang nonakademik dibandingkan bidang akademik. Dari berbagai kegiatan yang diikutinya, ia belajar mengenali kemampuan diri, melatih kedisiplinan, dan membangun keberanian untuk mencoba hal-hal baru.

Namun, perjalanan menuju panggung upacara tidak selalu mudah. Haya mengaku kerap mengalami sakit. Sejak kelas I MTs, pengalamannya tampil dalam kegiatan sekolah lebih banyak sebagai anggota paduan suara. Menjadi komandan upacara tentu menghadirkan tantangan tersendiri baginya.

Berawal dari Sekadar Mencoba

Kesempatan itu datang ketika Ustazah Sarah Syakirah membuka seleksi pemilihan komandan upacara. Haya awalnya hanya ingin mencoba. Ia tidak pernah menyangka bahwa langkah sederhana tersebut akan membawanya pada sebuah tanggung jawab besar.

Keesokan harinya, kabar kelulusan seleksi disampaikan oleh Ustazah Hazirah Buqis. Haya terkejut mendengarnya.

“Ha! Seorang Haya, menjadi pemimpin upacara!” begitu gumamnya dalam hati, menggambarkan rasa tidak percaya atas kesempatan yang diterimanya.

Di tengah kegembiraan itu, Ustazah Hazirah Buqis juga mengingatkannya agar tidak terlalu berharap karena masih ada kemungkinan perubahan dalam penentuan petugas.

Namun, perkataan tersebut tidak membuat Haya kehilangan semangat. Sebaliknya, ia menjadikannya sebagai dorongan untuk berlatih lebih sungguh-sungguh. Baginya, kesempatan yang sudah terbuka tidak boleh disia-siakan begitu saja.

Mengenal Haya, Komandan Upacara Hari Santri 2026

Hari demi hari, ia mengikuti latihan dengan penuh keseriusan. Di mata teman yang menyaksikan prosesnya, Haya terlihat berusaha memberikan yang terbaik. Ia tidak ingin sekadar menjadi peserta seleksi yang beruntung, tetapi ingin membuktikan bahwa dirinya memang layak menerima amanah tersebut.

Pengalaman mengikuti ekstrakurikuler silat turut menjadi bagian dari perjalanannya. Di sana, ia berusaha menghadapi keterbatasan fisik dan kondisi kesehatannya. Latihan demi latihan menjadi kesempatan untuk membangun ketahanan diri, kedisiplinan, dan keyakinan terhadap kemampuannya sendiri.

Ada harapan sederhana yang terus ia bawa: terpilih menjadi komandan upacara dan membuat kedua orang tuanya bangga.

Bagi sebagian orang, menjadi petugas upacara mungkin terlihat sebagai tugas biasa. Namun, bagi Haya, kesempatan itu memiliki arti lebih besar. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa keberanian untuk mencoba dapat membuka jalan menuju sesuatu yang sebelumnya terasa sulit dijangkau.

Srikandi Pesantren di Tengah Lapangan

Kesungguhan Haya akhirnya berbuah hasil. Ia terpilih dan ditetapkan sebagai komandan upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar di Pesantren Modern Al Manar, Krueng Barona Jaya, pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Peringatan tersebut menghadirkan pemandangan istimewa. Seluruh petugas upacara merupakan santriwati. Mereka mengemban beragam tugas, mulai dari komandan upacara, pasukan pengibar bendera, aubade, komandan barisan, pembaca teks, hingga pembaca doa.

Mengenal Haya, Komandan Upacara Hari Santri 2026

Para santriwati itu tampil dengan pakaian sesuai tugas masing-masing. Persiapan yang dilakukan melalui latihan berulang menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab di hadapan peserta dan tamu undangan.

Penampilan Haya bersama rekan-rekannya pun menarik perhatian para tamu dan pembina upacara. Mereka menunjukkan bahwa santriwati tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, kedisiplinan, dan kepemimpinan melalui kegiatan nyata.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E., yang akrab disapa Yahwa, menyampaikan bahwa keterlibatan santriwati dalam seluruh posisi petugas upacara memperlihatkan kapasitas perempuan dalam menjalankan peran kepemimpinan.

Menurutnya, seluruh persiapan upacara melibatkan para santriwati yang berlatih siang dan malam, mulai dari pasukan pengibar bendera, aubade, komandan upacara, hingga unsur lainnya.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuan, termasuk dalam kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ini adalah bentuk kesetaraan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Apalagi mereka semua santriwati, penerus masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penampilan para petugas tersebut membuktikan bahwa santri putri memiliki keterampilan kepemimpinan yang setara dalam momentum nasional.

Di tengah suasana upacara itu, Haya berdiri tegap menjalankan tugasnya. Ia memimpin jalannya upacara dengan penuh keyakinan, menghadirkan penampilan yang membuat orang-orang di sekitarnya terpukau. Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan, ketika disertai persiapan dan kesungguhan, dapat melahirkan kemampuan yang sebelumnya belum terlihat.

Jangan Sembunyikan Potensi Diri

Kisah Haya bukan semata-mata tentang keberhasilan menjadi komandan upacara. Lebih dari itu, kisahnya mengingatkan bahwa setiap orang memiliki potensi yang mungkin belum sepenuhnya disadari, bahkan oleh dirinya sendiri.

Haya yang awalnya hanya ingin mencoba seleksi akhirnya mampu menjalankan amanah besar. Keraguan yang sempat muncul tidak menghentikannya untuk berusaha. Keterbatasan dan tantangan yang dihadapi pun tidak menjadi alasan untuk menyerah.

Perjalanannya menunjukkan bahwa keberanian untuk memulai, kemauan untuk terus berlatih, dan kesediaan untuk memanfaatkan kesempatan merupakan bagian penting dari proses mengenali serta mengembangkan kemampuan diri.

Bagi Haya, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga. Ia ingin agar orang lain tidak menyimpan kelebihan yang dimiliki hanya karena merasa belum cukup mampu atau takut mencoba.

“Jangan memendam suatu kelebihan di dalam dirimu, tapi cobalah tunjukkan bahwa kamu juga bisa dan berbakat,” pesan Hayatul Husna.

Kalimat sederhana itu menjadi penutup yang bermakna dari perjalanannya. Sebab, terkadang seseorang tidak membutuhkan keyakinan bahwa dirinya sudah hebat untuk memulai. Ia hanya perlu keberanian untuk mencoba, kesungguhan untuk berlatih, dan kemauan untuk terus melangkah.

Dari seorang santriwati yang semula hanya ingin mengikuti seleksi, Haya belajar bahwa potensi tidak selalu muncul dengan sendirinya. Ada usaha yang harus dijalani, kesempatan yang perlu dimanfaatkan, dan keberanian yang harus dibangun.

Pada akhirnya, berdiri tegap di tengah lapangan bukan hanya tentang memimpin sebuah upacara. Bagi Haya, itu juga menjadi cara untuk membuktikan bahwa dirinya mampu melangkah lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Willian Kasmadi dan Perjuangan Menjadi Santri Mandiri

Oleh : Muhammad Ghifar Elkhairi, Tugas Jurnalistik "Feature" Kelas Media dan Jurnalistik Ketika sebagian santri masih terlelap, Willian Kasmadi telah...

Lebih Banyak Artikel Seperti Ini

2