Laporan : Wafa Syahira, Kelas 1 Aliyah, Kelas Media dan Jurnalistik
Santriwati kelas 4E Pesantren Modern Al-Manar mengikuti program outing class dengan mengunjungi Kompleks Makam Kandang XII dan Museum Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), Sabtu (12/9/2026). Museum tersebut berlokasi di Gampong Punge Jurong, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.
Dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan, Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar, Dr. Tgk. H. Ikhram M. Amin, M.Pd., mengatakan bahwa outing class merupakan program pendidikan yang dirancang untuk memberikan pengalaman di luar kelas kepada para santriwan dan santriwati.
“Tujuan outing class adalah untuk memberikan pengalaman kepada para santri dan meningkatkan kualitas alumni Pesantren Modern Al-Manar,” ujar Ustaz Ikhram di hadapan seluruh santri.
Ia menjelaskan, program tersebut dikhususkan bagi santri aliyah atau MA agar mereka memperoleh pengalaman baru dan pengalaman hidup di luar pesantren.
“Karena sesungguhnya belajar itu bukan hanya di dalam ruangan atau di kelas, tetapi juga di lingkungan dan alam sekitar kita. Belajar juga bukan hanya soal menulis maupun membaca, tetapi juga harus dilengkapi dengan observasi atau pengamatan yang bisa kita lakukan dengan cara melihat, mendengar, ataupun merasakan. Oleh karena itu, kegiatan outing class adalah salah satu program yang bisa membantu dan sangat mendukung untuk memperluas wawasan para santri,” tutupnya.
Rombongan berangkat dari Pesantren Al-Manar pukul 09.00 WIB dengan menggunakan satu bus dan satu mobil. Mereka didampingi Ustaz Darul Kamal serta beberapa ustaz dan ustazah lainnya.
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah Kompleks Makam Kandang XII, tempat 12 pahlawan Kerajaan Aceh Darussalam dimakamkan. Ustaz Darul Kamal menjelaskan bahwa kompleks tersebut termasuk makam paling unik di dunia karena makam-makamnya terbuat dari timah. Pada bagian batu nisan yang paling tinggi, dahulu diletakkan perhiasan yang kemudian dirampas oleh penjajah Belanda.
Hal itu terlihat langsung oleh para santriwati. Perhiasan tersebut sudah tidak ada, dan batu-batu nisannya tidak lagi utuh. Tujuh di antaranya bahkan tinggal separuh. Menurut Ustaz Darul Kamal, kerusakan itu terjadi karena nisan dicuri dan dihancurkan oleh penjajah Belanda.
Perjalanan dilanjutkan ke MAPESA. Di museum ini, para santriwati menjumpai beragam peninggalan sejarah, di antaranya keris dengan berbagai bentuk dan ukuran, dari yang kecil hingga yang panjangnya mencapai satu meter. Ada pula tombak, meriam, lampu penyot dengan bentuk bervariasi, piring dan alat masak, mata uang dari berbagai masa, serta batu nisan sesuai zamannya.
MAPESA bukanlah museum besar seperti yang kerap dijumpai. Museum ini hanya berupa rumah sederhana, tetapi menyimpan banyak koleksi peninggalan sejarah dengan beragam jenis.
Sebelum kembali ke pesantren, rombongan singgah di Wahana Impian Malaka (WIM). Seluruh santriwati kelas 4E merasa senang dan sangat menikmatinya. Mereka juga mengaku banyak pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan tersebut. Rombongan tiba kembali di pesantren tepat sebelum azan magrib berkumandang.

