Oleh : Hasrah, Kelas I Intensif Aliyah Al Manar, Kelas Media dan Jurnalistik
Di tengah derasnya hujan dan angin yang menerpa tubuh kecilku, ada sosok yang selalu hadir memberikan kehangatan. Sosok itu adalah ayah, tempat aku merasa aman, tempat aku menemukan pelukan, dan tempat yang selalu ingin aku tuju untuk pulang.
Bagiku, ayah bukan sekadar orang tua. Ia adalah superhero hebat dalam kehidupanku. Sosok yang mungkin tidak mengenakan jubah seperti pahlawan dalam cerita, tetapi setiap hari berjuang dengan caranya sendiri demi kebahagiaan keluarga.
Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Papa.
Papa merupakan anak kedua dari pasangan Ibu Harmawati dan Bapak Hasimi. Ia lahir di Bener Meriah pada 7 Juli dan kini bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan yang menuntut waktu, tenaga, dan kesediaan untuk terus bergerak, bahkan ketika orang lain mungkin sudah beristirahat.
Setiap pagi, Papa berangkat bekerja dan biasanya kembali ke rumah sebelum magrib. Pada malam hari, ketika pekerjaannya tidak terlalu banyak, ia menyempatkan diri pergi ke gym. Namun, ketika kesibukan datang bertubi-tubi, Papa memilih tetap berada di rumah, berkutat dengan laptopnya. Tak jarang, pekerjaan membuatnya harus begadang hingga larut malam.
Di tengah rutinitas yang padat itu, Papa tetap berusaha menyediakan waktu untuk keluarga.
Barangkali, bagi sebagian orang, hal itu terlihat sederhana. Namun, bagiku, waktu yang diluangkan Papa adalah bentuk kasih sayang yang tak ternilai. Sebab, di balik layar laptop dan tumpukan pekerjaan, ada seorang ayah yang berusaha menyeimbangkan tanggung jawabnya sebagai pekerja dengan perannya sebagai orang tua.
Sesekali, muncul pertanyaan polos dalam benakku.
Papa enggak capek, ya, harus bekerja setiap hari?
Kasihan, ya, Papa harus bekerja.
Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi menyimpan kepedulianku sebagai seorang anak yang mulai memahami bahwa di balik kehidupan yang kujalani, ada perjuangan panjang yang dilakukan orang tuaku.
Papa rela berkorban demi keluarga. Meski aku anak satu-satunya, banyak hal yang harus direlakan Papa demi kebahagiaan dan masa depanku. Ia tidak pernah mengeluh menghadapi tingkah lakuku. Bahkan, ketika kesibukan sedang menyita waktunya, Papa tetap berusaha hadir dan meluangkan waktu untuk bertemu denganku.
Jarak dari rumah ke sekolahku terbilang cukup jauh. Namun, bagi Papa, jarak bukan alasan untuk berhenti berusaha. Ia tetap mengupayakan kehadirannya, meskipun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Bagiku, semua itu menjadi bukti bahwa kasih sayang tidak selalu diungkapkan melalui kata-kata. Terkadang, cinta justru hadir dalam bentuk perjalanan panjang, waktu yang dikorbankan, pekerjaan yang diselesaikan hingga larut malam, serta usaha yang terus dilakukan tanpa banyak keluhan.
Aku menyadari bahwa keluargaku berasal dari kalangan sederhana. Namun, dalam urusan pendidikan, Papa selalu berusaha memberikan yang terbaik. Ia tidak pernah menuntutku menjadi seseorang yang serba bisa. Papa hanya menginginkan aku tumbuh menjadi pribadi yang baik dan meraih kesuksesan.
Ada pesan Papa yang terus kuingat.
“Papa cuma mau Hasrah itu jadi orang yang sukses. Belajar yang bagus, jangan macam-macam, jangan dulu pacaran. Papa mau yang terbaik untuk Hasrah.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagiku, di dalamnya tersimpan harapan besar seorang ayah terhadap masa depan anaknya. Papa tidak meminta banyak hal. Ia hanya ingin aku belajar dengan baik, menjaga diri, dan tumbuh menjadi orang yang sukses.
Harapan serupa juga datang dari Mama. Dengan penuh keyakinan, Mama pernah berpesan agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik daripada kedua orang tuaku.
“Hasrah harus bisa jadi lebih baik dari Mama dan Papa. Setidaknya, kalau Mama gagal, Hasrah jangan sampai gagal. Mama yakin Hasrah bisa. Jangan pernah menyerah, ya. Mama dan Papa selalu ada untuk Hasrah.”
Pesan Mama itu menjadi salah satu sumber kekuatan bagiku untuk terus melangkah. Aku tahu, di balik setiap nasihat, ada doa dan harapan yang disematkan orang tuaku. Ada keinginan agar kehidupanku kelak menjadi lebih baik, dengan kesempatan yang mungkin tidak selalu dimiliki kedua orang tuaku.
Harapan itu pula yang membuatku berusaha untuk tidak menyerah.
Aku memahami bahwa diriku adalah tempat Mama dan Papa menitipkan harapan. Kesadaran itu membuatku ingin terus berjuang, meskipun aku mengakui bahwa sampai sekarang aku masih sering menyulitkan kedua orang tuaku.
Di antara banyaknya pengorbanan yang telah mereka berikan, terkadang aku merasa tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan mereka. Tidak semua perjuangan dapat diganti dengan hadiah. Tidak semua pengorbanan dapat dibayar dengan kata-kata terima kasih.
Namun, ada satu hal yang selalu bisa kulakukan: menyebut nama Mama dan Papa dalam setiap doa dan sujudku.
Di sanalah aku menitipkan rasa sayang, harapan, dan keinginanku agar suatu hari nanti dapat membuat kedua orang tuaku bahagia. Aku mungkin belum mampu membalas seluruh pengorbanan mereka hari ini, tetapi aku ingin terus berusaha menjadi anak yang dapat membanggakan keduanya.
Bagiku, Papa adalah superhero yang tidak selalu terlihat kuat, tetapi tidak pernah berhenti berusaha. Sosok yang lelahnya mungkin tidak selalu kuceritakan, pengorbanannya tidak selalu kusadari, dan cintanya sering kali hadir melalui hal-hal sederhana.
Papa adalah tempatku pulang. Bukan hanya sebuah rumah untuk kembali, melainkan juga tempat menemukan kasih sayang, ketenangan, dan keyakinan bahwa aku tidak pernah berjuang sendirian.
Dan jika suatu hari dunia bertanya siapa sosok yang paling berarti dalam hidupku, aku ingin dunia tahu satu hal: aku menyayangi Mama dan Papa lebih dari apa pun.

