Sejak mulai menjadi pengurus pesantren pada Juli 2010 hingga 29 Oktober 2026, saya telah melewati perjalanan panjang dalam pengabdian. Jika dihitung dengan asumsi mulai 1 Juli 2010, perjalanan pengabdian itu telah berlangsung selama 16 tahun 120 hari, atau sekitar 5.964 hari, 143.136 jam, 8.588.160 menit, dan 515.289.600 detik hingga tulisan ini ditulis pada 29 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB.
Tentu, angka-angka itu hanyalah hitungan waktu. Di baliknya, ada pengalaman, perjuangan, kegelisahan, pembelajaran, dan proses menemukan makna diri di lingkungan pesantren.
Selama perjalanan itu, saya belajar memahami tiga hal yang belakangan menjadi bahan renungan: bermanfaat, dimanfaatkan, dan memanfaatkan.
Ketiganya terdengar sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam bagi siapa pun yang sedang mengabdikan diri di pesantren. Sebab, pengabdian bukan hanya tentang berapa lama kita bertahan, apa jabatan yang kita pegang, atau seberapa banyak pekerjaan yang kita selesaikan. Lebih dari itu, pengabdian adalah tentang bagaimana keberadaan kita membawa manfaat, bagaimana kita bersedia menjadi bagian dari perjuangan, dan bagaimana kita menggunakan apa yang kita miliki untuk kebaikan yang lebih luas.
Bermanfaat: Menemukan Alasan Mengapa Kita Harus Ada
Pada awal-awal menjadi pengurus pesantren, saya pernah merasakan kegelisahan tentang keberadaan diri sendiri. Saya merasa belum benar-benar bermanfaat bagi lembaga tempat saya mengabdi.
Saat itu, dunia media belum seperti sekarang. Media sosial belum berkembang semasif hari ini. Belum semua kegiatan dapat dengan mudah dipublikasikan, apalagi menjangkau banyak orang hanya melalui sebuah unggahan. Istilah viral pun belum menjadi bagian dari percakapan sehari-hari seperti sekarang.
Padahal, di lingkungan pesantren, begitu banyak hal baik yang berlangsung setiap hari. Ada aktivitas santri yang mendidik, kegiatan pembelajaran yang membangun karakter, program-program pesantren yang dirancang dengan penuh pertimbangan, serta berbagai pencapaian yang layak diketahui oleh masyarakat.
Namun, banyak dari kebaikan itu yang tidak terdokumentasikan dengan baik. Sebagian hanya menjadi kenangan bagi mereka yang menyaksikannya secara langsung. Sebagian lainnya bahkan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan catatan visual yang dapat dilihat kembali.
Dari kegelisahan itulah, pada tahun kedua pengabdian, saya mulai tertarik mempelajari kamera.
Berbekal tabungan pribadi, saya membeli sebuah kamera Nikon prosumer dengan harga sekitar satu jutaan rupiah. Bagi saya saat itu, kamera tersebut bukan sekadar alat untuk mengambil gambar. Ia menjadi pintu masuk menuju dunia baru, sebuah kesempatan untuk belajar, sekaligus ikhtiar kecil agar keberadaan saya di pesantren dapat memberikan manfaat yang lebih nyata.
Saya mulai berpikir, jika ada begitu banyak kebaikan di pesantren, mengapa tidak berusaha mendokumentasikannya? Jika ada prestasi santri, mengapa tidak diabadikan? Jika ada program pendidikan yang menarik, mengapa tidak diperkenalkan kepada masyarakat?
Saya menyadari bahwa sebuah kegiatan yang baik tidak selalu diketahui banyak orang. Bukan karena kegiatan itu tidak bernilai, melainkan karena belum ada yang mengabadikan dan menceritakannya dengan baik.
Dari situlah saya mulai menemukan alasan untuk belajar.
Saya ingin keberadaan saya tidak hanya dihitung dari kehadiran fisik di pesantren, tetapi juga dari kontribusi yang bisa saya berikan. Saya ingin melakukan sesuatu yang mungkin belum banyak dilakukan orang lain pada saat itu.
Bagi saya, bermanfaat bukan berarti harus langsung menjadi orang hebat, memiliki keahlian luar biasa, atau memegang jabatan penting. Bermanfaat bisa dimulai dari melihat sesuatu yang belum dikerjakan, lalu berusaha mengerjakannya dengan kemampuan yang kita miliki.
Kadang-kadang, manfaat itu tidak langsung terlihat. Kita mungkin memulai sesuatu dengan alat sederhana, pengetahuan terbatas, dan kemampuan yang masih jauh dari sempurna. Namun, jika dilakukan dengan niat baik dan kemauan untuk terus belajar, hal kecil itu dapat tumbuh menjadi kontribusi yang berarti.
Saya belajar bahwa menemukan manfaat diri sering kali dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana: Apa yang bisa saya lakukan untuk membuat keadaan menjadi sedikit lebih baik?
Dimanfaatkan: Bersedia Menjadi Bagian dari Perjuangan
Setelah mulai tertarik pada dunia kamera, saya merasa perlu belajar lebih serius. Saya tidak ingin sekadar bisa memotret, tetapi juga memahami bagaimana sebuah peristiwa dapat diolah menjadi informasi yang bernilai.
Saya mulai memikirkan dunia jurnalistik dan media secara lebih mendalam.
Sekitar tahun 2016, ketika saya berada di penghujung masa kuliah S1 dan mulai memasuki semester-semester akhir, saya berencana memanfaatkan waktu luang untuk mengikuti pendidikan jurnalistik di sebuah sekolah jurnalistik di Banda Aceh.
Keputusan itu tidak sepenuhnya berjalan mulus. Rencana saya sempat mendapat tentangan dari pimpinan. Beliau berpandangan bahwa kegiatan tersebut akan mengurangi waktu saya di pesantren, sementara menurut beliau, ilmu yang ingin saya pelajari sebenarnya dapat diperoleh di lingkungan pesantren sendiri.
Saya memahami pandangan itu. Dalam sebuah lembaga pendidikan berasrama, keberadaan pengurus sangat dibutuhkan. Waktu, tenaga, dan perhatian sering kali harus diberikan untuk berbagai keperluan lembaga.
Namun, dalam hati, saya memiliki pertanyaan yang terus mengganggu pikiran: bagaimana saya bisa mempelajari dunia kamera dan jurnalistik di pesantren, jika pada saat itu belum ada orang yang secara khusus menguasai bidang tersebut dan dapat menjadi tempat saya belajar?
Situasi saat itu memang berbeda dengan sekarang. Dokumentasi foto dan video belum menjadi perhatian utama dalam berbagai kegiatan kepengurusan. Publikasi melalui media sosial belum berkembang seperti hari ini, sementara website pesantren pun belum menjadi bagian dari kebiasaan komunikasi lembaga.
Saya merasa perlu mencari ruang belajar di luar, agar suatu hari nanti ilmu yang diperoleh dapat saya bawa kembali untuk pesantren.
Pada akhirnya, perjalanan belajar itu menjadi bagian penting dalam proses pengabdian saya. Saya semakin memahami bahwa media bukan hanya soal kamera, gambar yang bagus, atau video yang menarik. Media juga berbicara tentang cara melihat peristiwa, menyusun informasi, menyampaikan pesan, dan memperkenalkan nilai-nilai baik kepada masyarakat.
Dalam proses itu, saya juga belajar tentang arti dimanfaatkan.
Kata dimanfaatkan terkadang terdengar negatif, seolah-olah seseorang hanya dipakai tenaganya tanpa mendapatkan penghargaan yang layak. Namun, dalam konteks pengabdian, saya mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Dimanfaatkan berarti bersedia mengambil bagian ketika lembaga membutuhkan kemampuan kita. Ketika kita memiliki pengetahuan, tenaga, atau keterampilan yang dapat membantu sebuah pekerjaan, kita tidak selalu harus menunggu diminta berkali-kali. Kita dapat hadir, menawarkan bantuan, dan mengambil tanggung jawab sesuai kemampuan.
Ketika kemampuan fotografi dan jurnalistik mulai berkembang, saya berusaha menggunakannya untuk mendokumentasikan kegiatan pesantren, mengabarkan aktivitas santri, serta memperkenalkan berbagai program dan pencapaian lembaga.
Tentu, tidak semua proses berjalan mudah. Ada pekerjaan yang harus dilakukan di tengah kesibukan lain, ada kegiatan yang menuntut kehadiran, dan ada tanggung jawab yang terkadang tidak terlihat oleh orang lain.
Namun, dari situ saya belajar bahwa pengabdian tidak selalu berlangsung dalam situasi yang ideal.
Ada kalanya kita harus mengerjakan sesuatu sebelum orang lain memahami pentingnya pekerjaan tersebut. Ada kalanya kita perlu membuktikan manfaat sebuah bidang melalui hasil nyata, bukan hanya melalui penjelasan.
Meski demikian, menjadi orang yang dapat dimanfaatkan bukan berarti harus membiarkan diri dieksploitasi atau mengabaikan batas kemampuan. Pengabdian tetap membutuhkan komunikasi, tanggung jawab bersama, dan pembagian peran yang sehat.
Bagi saya, ilmu yang tidak pernah digunakan hanya akan berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Namun, ilmu yang bersedia kita bagikan dan gunakan untuk membantu orang lain dapat tumbuh menjadi manfaat yang lebih luas.
Jika hari ini pesantren membutuhkan kemampuan yang kita miliki, mungkin itulah kesempatan untuk mengamalkan apa yang telah kita pelajari.
Sebab, tidak semua orang harus menjadi pemimpin untuk memberikan pengaruh. Ada yang berkontribusi melalui gagasan, ada yang bekerja di balik layar, ada yang mendidik, dan ada pula yang mengabadikan perjuangan agar dapat dikenang serta dipelajari oleh generasi berikutnya.
Tidak semua pekerjaan harus terlihat untuk menjadi berarti.
Memanfaatkan: Mengubah Ilmu, Akses, dan Fasilitas Menjadi Kebaikan
Setelah bertahun-tahun mengembangkan dokumentasi dan publikasi pesantren, saya mulai melihat perubahan. Kegiatan yang dahulu mungkin hanya diketahui oleh warga internal pesantren, kini dapat disaksikan oleh masyarakat yang lebih luas.
Aktivitas santri, program pendidikan, berbagai pencapaian, dan cerita-cerita baik dari lingkungan pesantren mulai memiliki ruang untuk diperkenalkan kepada publik.
Perjalanan itu membuat saya memahami bahwa membangun media pesantren bukan semata-mata tentang memiliki kamera, membuat akun media sosial, atau mengelola website. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting, yaitu membangun kesadaran tentang pentingnya media itu sendiri.
Saya pernah menyampaikan kepada beberapa kawan dari pesantren lain yang bertanya bagaimana mereka dapat mulai mengembangkan media publikasi di lembaga masing-masing.
Jawaban saya sederhana: bukalah pola pikir para guru dan pimpinan lembaga terlebih dahulu.
Sebelum berbicara tentang peralatan, aplikasi, desain, atau strategi publikasi, bangunlah kesadaran bahwa dokumentasi dan publikasi merupakan bagian penting dari kehidupan lembaga pendidikan. Sebab, tantangan dalam membangun media lembaga bukan hanya soal kemampuan teknis atau ketersediaan peralatan, tetapi juga bagaimana mengubah cara pandang orang-orang di dalamnya terhadap pentingnya media digital.
Penting untuk menanamkan pemahaman sejak awal bahwa peralatan media digital, seperti kamera, komputer, perangkat audio, dan perlengkapan pendukung lainnya, bukan sekadar barang mahal yang menghabiskan anggaran lembaga. Semua itu merupakan sarana kerja yang dapat membantu proses dokumentasi, publikasi, pembelajaran, dan penyebaran informasi jika digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Dengan pola pikir yang terbuka, ketika suatu saat lembaga perlu membeli kamera atau perangkat media lainnya dengan harga yang tidak murah, pertanyaan yang muncul tidak semata-mata, “Mengapa alat ini begitu mahal?” tetapi juga, “Apa manfaat alat ini bagi lembaga, bagaimana kita mengoptimalkan penggunaannya, dan nilai apa yang bisa kita hasilkan darinya?”
Tentu, bukan berarti setiap peralatan mahal harus dibeli. Kebutuhan, kemampuan anggaran, skala prioritas, dan manfaat penggunaannya tetap harus dipertimbangkan. Namun, keputusan tersebut sebaiknya lahir dari pemahaman yang utuh, bukan semata-mata karena belum menyadari pentingnya bidang media digital.
Di sinilah pentingnya membuka mindset orang-orang di dalam lembaga. Ketika kesadaran sudah tumbuh, peralatan tidak lagi sekadar dipandang sebagai pengeluaran, tetapi sebagai investasi yang perlu dikelola agar memberikan manfaat nyata.
Pimpinan perlu memahami bahwa kegiatan yang baik layak didokumentasikan. Guru perlu melihat bahwa aktivitas pembelajaran dan perkembangan santri memiliki nilai untuk dibagikan. Pengelola lembaga perlu menyadari bahwa publikasi yang bertanggung jawab dapat menjadi jembatan informasi antara pesantren dan masyarakat.
Sebab, sebelum membangun sistem media yang baik, kita perlu membangun kesadaran tentang mengapa media itu penting. Sebelum meminta lembaga menyediakan peralatan, kita perlu menumbuhkan pemahaman tentang manfaat penggunaannya. Dan sebelum berharap publikasi berkembang, kita perlu memastikan bahwa orang-orang di dalamnya memiliki cara pandang yang mendukung perkembangan tersebut.
Bagi saya, membuka pola pikir adalah langkah awal yang tidak boleh dilewatkan. Sebab, teknologi bisa dibeli, peralatan bisa dilengkapi, dan keterampilan teknis bisa dipelajari. Namun, tanpa kesadaran dan pemahaman yang baik, semua itu belum tentu dimanfaatkan secara maksimal.
Tanpa kesadaran itu, kamera yang mahal sekalipun mungkin hanya akan tersimpan di lemari. Akun media sosial bisa saja ada, tetapi tidak dikelola secara konsisten. Website mungkin sudah dibuat, tetapi tidak pernah diperbarui.
Sebaliknya, dengan kesadaran yang baik, keterbatasan peralatan bukan lagi alasan untuk tidak memulai.
Namun, perjalanan ini juga pernah menghadirkan sebuah pertanyaan yang cukup membekas dalam ingatan saya.
Suatu ketika, dalam sebuah Fit and Proper Test atau uji kelayakan saat proses penentuan Kepala Bidang Humas, seorang guru mempertanyakan apakah media sosial dan publikasi benar-benar bermanfaat bagi pesantren. Kekhawatirannya berangkat dari satu hal: jangan sampai pesantren mengeluarkan biaya, tetapi hasilnya tidak memberikan manfaat yang jelas.
Pertanyaan itu sempat mengusik pikiran saya.
Di satu sisi, masyarakat sudah mulai terbiasa mengonsumsi informasi melalui media digital. Banyak lembaga memperkenalkan kegiatan, membangun komunikasi, dan menyampaikan informasi melalui platform digital. Namun, di sisi lain, masih ada pertanyaan mendasar tentang nilai dan manfaat pekerjaan tersebut.
Saya tidak menganggap pertanyaan itu sepenuhnya keliru. Justru, pertanyaan semacam itu penting untuk memastikan bahwa setiap sumber daya lembaga digunakan secara bertanggung jawab.
Yang perlu kita lakukan adalah menjelaskan manfaatnya dan menunjukkan hasilnya.
Media pesantren bukan sekadar tempat mengunggah foto kegiatan. Ia dapat menjadi sarana dokumentasi perjalanan pendidikan, penyebaran informasi, pengenalan prestasi santri, penguatan kepercayaan masyarakat, serta penyimpanan rekam jejak lembaga.
Ketika seorang santri memenangkan perlombaan, dokumentasi dan pemberitaan dapat menjadi catatan prestasi sekaligus motivasi bagi santri lainnya. Ketika sebuah program pendidikan dilaksanakan, publikasi dapat membantu orang tua dan masyarakat memahami proses yang berlangsung di pesantren. Ketika sebuah lembaga memiliki gagasan baik, media dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan itu kepada khalayak yang lebih luas.
Tentu, manfaat tersebut tidak cukup hanya diukur dari jumlah penonton, tanda suka, atau seberapa sering sebuah unggahan menjadi viral. Kualitas informasi, ketepatan penyampaian, dampak bagi pembaca, dan keberlanjutan dokumentasi juga perlu menjadi pertimbangan.
Di sinilah saya kembali merenungkan kata memanfaatkan.
Jika dahulu saya berusaha mencari manfaat dengan belajar kamera dan jurnalistik, kemudian bersedia menggunakan kemampuan itu ketika pesantren membutuhkan, maka sekarang muncul tanggung jawab yang lebih besar: bagaimana memanfaatkan ilmu, akses, pengalaman, peralatan, dan fasilitas yang tersedia untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar bernilai?
Saya tidak lagi hanya berpikir tentang bagaimana menghasilkan foto yang bagus atau video yang menarik. Saya mulai memikirkan bagaimana media dapat digunakan untuk mendidik, menginspirasi, membangun literasi digital, dan membuka ruang belajar bagi santri.
Bagaimana santri dapat belajar menulis berita, mengambil gambar, menyunting video, melakukan wawancara, dan menyampaikan informasi secara bertanggung jawab?
Bagaimana mereka dapat memahami bahwa media digital bukan sekadar tempat mencari hiburan, melainkan juga ruang untuk berkarya, belajar, dan menyebarkan kebaikan?
Bagaimana fasilitas yang disediakan lembaga tidak hanya digunakan oleh pengurus hari ini, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi generasi berikutnya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat saya merasa bahwa perjalanan ini belum selesai.
Ilmu yang kita miliki tidak seharusnya berhenti pada kemampuan pribadi. Akses yang kita peroleh tidak semestinya hanya membuka kesempatan bagi diri sendiri. Peralatan yang tersedia tidak cukup hanya menghasilkan karya sesaat.
Semuanya perlu dimanfaatkan untuk menciptakan nilai yang lebih luas.
Jika kita memiliki ilmu, ajarkanlah. Jika kita memiliki pengalaman, bagikanlah. Jika kita memiliki akses, bukalah kesempatan bagi orang lain. Jika lembaga telah menyediakan fasilitas, gunakanlah dengan bertanggung jawab untuk menghasilkan karya dan pembelajaran.
Memanfaatkan bukan sekadar menggunakan apa yang tersedia, melainkan mengubah apa yang tersedia menjadi sesuatu yang memiliki nilai.
Saya ingin kemampuan media yang selama ini saya pelajari tidak berhenti pada diri saya sendiri. Saya ingin semakin banyak santri yang mengenal dunia jurnalistik, memahami media digital, dan memiliki keberanian untuk berkarya. Saya ingin mereka belajar bukan karena dipaksa langsung mahir, melainkan karena tumbuh rasa ingin tahu, menikmati proses, lalu perlahan menemukan kemampuan mereka sendiri.
Sebab, salah satu ukuran keberhasilan pengabdian bukan hanya seberapa banyak pekerjaan yang dapat kita selesaikan sendiri, tetapi juga seberapa banyak orang yang dapat kita bantu untuk tumbuh dan berkembang.
Jangan Hanya Menghitung Masa Pengabdian
Enam belas tahun lebih berada di lingkungan pesantren mengajarkan saya bahwa pengabdian bukan perjalanan yang selalu mudah dan bukan pula proses yang selesai hanya karena kita telah lama berada di suatu tempat.
Ada masa ketika kita belum menemukan kemampuan yang dapat diandalkan. Ada masa ketika kita harus belajar sendiri, mencari jalan, dan meyakinkan orang lain bahwa apa yang sedang kita kerjakan memiliki manfaat. Ada pula masa ketika kemampuan yang dahulu kita pelajari mulai dibutuhkan, lalu menjadi tanggung jawab yang harus terus dikembangkan.
Dari perjalanan itu, saya belajar tiga hal.
Bermanfaat, ketika kita berusaha menemukan nilai dari keberadaan diri dan melakukan sesuatu yang membawa kebaikan.
Dimanfaatkan, ketika kita bersedia menggunakan kemampuan untuk membantu perjuangan bersama, tanpa kehilangan kesadaran akan tanggung jawab dan batas diri.
Memanfaatkan, ketika kita mampu mengolah ilmu, pengalaman, kesempatan, akses, dan fasilitas menjadi sesuatu yang lebih berguna bagi orang lain dan lembaga tempat kita mengabdi.
Ketiganya saling berkaitan. Kita berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat, bersedia mengambil peran ketika dibutuhkan, lalu terus belajar memanfaatkan setiap potensi agar manfaat itu semakin luas.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa hidup di pesantren bukan sekadar tentang tinggal, bekerja, menjalankan tugas, atau menghabiskan tahun demi tahun dalam pengabdian.
Lebih dari itu, hidup di pesantren adalah kesempatan untuk bertumbuh bersama, belajar dari keterbatasan, mengembangkan kemampuan, dan meninggalkan sesuatu yang dapat diteruskan oleh generasi setelah kita.
Saya mungkin tidak selalu mampu melakukan hal-hal besar. Namun, saya ingin terus memastikan bahwa apa yang saya pelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan, apa yang saya miliki tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, dan apa yang dikerjakan hari ini tidak berlalu tanpa meninggalkan manfaat.
Sebab, pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah berapa lama kita telah berada di pesantren, melainkan apa yang telah kita lakukan selama berada di dalamnya, apa yang bisa kita berikan ketika dibutuhkan, dan apa yang dapat kita manfaatkan agar kebaikan terus tumbuh setelah kita.
Semoga selama masih diberi kesempatan untuk mengabdi, kita tidak berhenti berusaha menjadi manusia yang bermanfaat, tidak keberatan ketika kemampuan kita dibutuhkan untuk kebaikan bersama, dan tidak menyia-nyiakan ilmu serta fasilitas yang telah dipercayakan kepada kita.
Karena pengabdian yang baik bukan hanya tentang hadir selama bertahun-tahun, tetapi tentang memastikan bahwa kehadiran kita meninggalkan jejak kebaikan yang dapat dirasakan, dikenang, dan dilanjutkan oleh orang lain.

