Oleh: Syafrizal Elselatany, Kabid. Humas Al Manar
Dua puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah lembaga pendidikan. Terlebih lagi bagi pesantren yang lahir dari keprihatinan sosial, tumbuh dalam dinamika Aceh, dan dibangun di atas semangat pengabdian. Seperempat abad Pesantren Modern Al Manar adalah kisah tentang keteguhan langkah, pengorbanan tanpa pamrih, dan perjuangan panjang menyiapkan generasi umat untuk masa depan yang lebih bermartabat.
Di Desa Lampermai, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Al Manar berdiri bukan sekadar sebagai institusi pendidikan. Ia hadir sebagai rumah harapan bagi anak-anak yatim, kaum dhuafa, dan generasi yang pernah merasakan getirnya konflik dan bencana. Dari tempat inilah cahaya pendidikan dinyalakan—pelan namun pasti—untuk menerangi jalan masa depan umat.
Pesantren ini lahir dari cita-cita mulia Almarhum H. Azhar Manyak, atau yang akrab dikenal sebagai Abu Manyak Ulee Kareng. Beliau meyakini bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Bahwa anak-anak yatim dan fakir miskin berhak mendapatkan pendidikan terbaik, bukan hanya untuk menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter, akhlak, dan jiwa pengabdian.
Karena itu, sejak awal Al Manar dibangun bukan dengan semangat bisnis, melainkan dengan ruh perjuangan. Ia tumbuh untuk umat, bergerak demi kemaslahatan, dan hadir sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat. Nilai inilah yang membuat Al Manar tetap kokoh berdiri hingga hari ini.
Nama “Al Manar” sendiri bermakna cahaya dan menara penerang. Sebuah nama yang mengandung doa besar agar pesantren ini menjadi sumber cahaya bagi umat dan melahirkan generasi yang mampu menerangi zaman. Seiring perjalanan waktu, doa itu perlahan menemukan jawabannya.
Dari hanya puluhan santri pada masa awal berdiri, kini Al Manar telah berkembang menjadi pesantren modern dengan ribuan santri dan fasilitas pendidikan yang terus bertumbuh. Para alumninya tersebar di berbagai perguruan tinggi nasional dan internasional, hadir di tengah masyarakat sebagai guru, dai, akademisi, birokrat, politikus, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya.
Inilah bukti nyata bahwa pesantren bukan hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga melahirkan generasi yang berdampak bagi kehidupan sosial dan pembangunan peradaban.
Namun capaian itu tidak lahir dalam kemudahan.
Ada perjuangan panjang yang sering kali tak terlihat. Ada guru-guru yang dengan penuh kesabaran mengajarkan huruf demi huruf kepada santri. Ada malam-malam panjang ketika para ustaz membangunkan santri untuk belajar dan beribadah di tengah keterbatasan. Ada masa konflik Aceh yang membuat dunia pendidikan berjalan dalam suasana penuh ketidakpastian. Ada pula tragedi tsunami yang menguji ketahanan pesantren dalam kondisi serba darurat.
Tetapi justru dari ujian itulah Al Manar ditempa.
Pesantren ini tidak dibesarkan oleh kemewahan, melainkan oleh keikhlasan. Tidak tumbuh karena fasilitas berlimpah, tetapi karena keyakinan bahwa mendidik generasi umat adalah bagian dari perjuangan besar membangun masa depan bangsa.
Jejak perjuangan Abu Manyak masih terasa hingga kini. Meski beliau telah wafat pada 24 Januari 2016, nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dalam denyut perjalanan pesantren. Beliau memahami bahwa pesantren harus tetap independen, berdiri di atas semua golongan, dan tidak menjadi alat kepentingan tertentu. Karena itulah Al Manar mampu menjaga marwahnya sebagai lembaga pendidikan umat.
Hari ini, ketika menoleh ke belakang, kita menyadari bahwa perjalanan 25 tahun Al Manar bukan sekadar perjalanan sebuah lembaga pendidikan. Ini adalah perjalanan cita-cita besar tentang bagaimana pendidikan Islam harus hadir: bergerak menjawab tantangan zaman, berdampak bagi masyarakat, dan menyemai peradaban.
Usia 25 tahun bukanlah garis akhir. Ini adalah gerbang menuju fase baru yang lebih matang. Tantangan dunia pendidikan semakin kompleks—digitalisasi, perubahan sosial, krisis moral generasi muda, hingga arus globalisasi—semuanya menuntut pesantren untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Al Manar memiliki modal besar untuk menjawab tantangan itu: tradisi keilmuan, sistem pendidikan terpadu, kultur pengabdian, dan jaringan alumni yang terus berkembang. Dengan modal tersebut, Al Manar memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pendidikan Islam modern yang diperhitungkan, bukan hanya di Aceh, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional.
Cita-cita besar mendirikan perguruan tinggi Al Manar pun menjadi langkah penting agar manfaat perjuangan pendidikan ini semakin luas dirasakan umat.
Namun di atas semua itu, satu hal yang harus terus dijaga adalah ruh keikhlasan. Sebab sejarah membuktikan, banyak lembaga besar runtuh bukan karena kekurangan fasilitas, melainkan karena kehilangan semangat pengabdian.
Semoga Al Manar terus menjadi cahaya bagi umat. Semoga para guru dan pengurusnya senantiasa diberi kekuatan, keikhlasan, dan istiqamah dalam mendidik generasi bangsa. Semoga para alumninya menjadi manusia-manusia yang membawa manfaat dan keberkahan di mana pun berada.
Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal jariyah Almarhum H. Azhar Manyak, melapangkan kuburnya, meninggikan derajatnya bersama orang-orang saleh, serta menjadikan setiap ilmu dan kebaikan yang lahir dari Pesantren Modern Al Manar sebagai pahala yang terus mengalir tanpa putus.
Seperempat abad telah berlalu.
Namun cahaya itu masih menyala.
Dan mudah-mudahan akan terus menyala, bergerak memberi manfaat, berdampak bagi umat, serta menyemai peradaban untuk masa depan.

