Di sudut ruang ekstrakurikuler menjahit Pesantren Modern Al Manar, seorang santriwati tampak tersenyum bangga sambil memperlihatkan gamis hasil jahitannya sendiri kepada tim Humas Al Manar. Ia adalah Rifa Nurdina, santriwati kelas lima asal Rokan Hilir, Riau, yang membuktikan bahwa bakat dan ketekunan dapat tumbuh menjadi karya luar biasa di lingkungan pesantren.
Rifa lahir di Bangko Kanan pada 11 Desember 2007 dari pasangan Suzan Haryadi dan Siti Nursiah. Ia berasal dari Desa Karya Mukti, Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Ketertarikannya terhadap dunia menjahit sebenarnya sudah muncul sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun, minat itu mulai berkembang lebih serius ketika ia mengikuti ekstrakurikuler menjahit pada Ahad, 27 Februari 2022. Sejak saat itu, dunia jahit-menjahit menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Pertama kali Rifa belajar menjahit adalah ketika ia masih duduk di kelas 2 SMP di Pesantren Al Muhsinin. Dari sana, keterampilannya terus berkembang melalui latihan dan pengalaman. Keseriusannya semakin terlihat ketika ia masuk ke Pesantren Modern Al Manar pada tahun 2023 untuk jenjang Aliyah. Di sana, Rifa mendapatkan kesempatan mewakili santriwati Al-Manar mengikuti Pelatihan Menjahit yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh Besar di Putri Costume, yang berlangsung pada 26 Oktober hingga 1 November 2024. Pelatihan tersebut semakin memperluas pengetahuan dan keterampilannya dalam dunia fashion dan tata busana.
Kini, Rifa aktif mengikuti ekstrakurikuler menjahit di Pesantren Modern Al Manar. Tidak hanya belajar, ia juga dipercaya menjadi mentor bagi adik-adik kelasnya. Kemampuannya menjahit berbagai model pakaian, termasuk gamis yang ia kenakan sendiri, membuatnya dikenal sebagai salah satu santriwati kreatif di lingkungan pesantren.
Dalam dunia fashion, Rifa memiliki dua desainer favorit yang menjadi inspirasinya. Ia menyukai karya Zaskia Sungkar dengan desain gamis dan kemeja yang simpel namun elegan, cocok digunakan dalam suasana kerja maupun santai. Selain itu, ia juga mengagumi karya Ria Miranda yang identik dengan motif floral, warna pastel, serta kesan feminin dan lembut. Dari kedua tokoh tersebut, Rifa belajar bahwa busana tidak hanya soal penampilan, tetapi juga tentang karakter dan identitas diri.
Meski memiliki bakat di bidang menjahit, Rifa tetap menempatkan pendidikan dan pembentukan akhlak sebagai prioritas utama. Baginya, pesantren bukan sekadar tempat belajar ilmu agama, tetapi juga tempat membentuk karakter dan kemandirian hidup. “Di pesantren saya belajar, ilmu tanpa adab itu kosong. Adab tanpa ilmu itu buta,” ujarnya. Ia juga percaya bahwa kehidupan pesantren mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, dan arti perjuangan jauh dari keluarga demi masa depan yang lebih baik.
Rifa mengaku memilih Pesantren Modern Al Manar karena sistem pendidikannya yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum secara seimbang. Menurutnya, lingkungan pesantren membantu dirinya belajar disiplin, mandiri, dan membangun akhlak yang baik. Meski harus menempuh jarak jauh dari Riau ke Aceh, ia yakin perjalanan tersebut adalah bagian dari proses pendewasaan diri agar kelak bisa membanggakan kedua orang tuanya.
Ke depan, Rifa bercita-cita menjadi seorang guru sekaligus penjahit sukses yang memiliki perusahaan menjahit sendiri dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia berharap kemampuan yang dimilikinya tidak hanya menjadi keterampilan pribadi, tetapi juga dapat membuka peluang dan membantu orang lain di masa depan.
Kisah Rifa Nurdina menjadi bukti bahwa pesantren bukan hanya melahirkan santri yang kuat dalam ilmu agama, tetapi juga generasi kreatif, mandiri, dan siap berkarya. Dari ruang sederhana di pesantren, mimpi-mimpi besar itu mulai dijahit dengan kesabaran, disiplin, dan semangat belajar yang tak pernah padam.

