ALMANAR.ID – Bimbingan konseling (BK) menjadi bagian penting dalam mendampingi perkembangan santri di Pesantren Modern Al Manar. Hal ini terungkap dalam wawancara khusus bersama reporter Salsabila dan Tim Media dan Jurnalistik Kelas X Aliyah Al Manar dengan Ustazah Nurul Fauqan Nurin, S.Pd, Guru Bimbingan Konseling Pesantren Modern Al Manar.
Menurut Ustazah Nurul, bimbingan konseling bukan hanya ditujukan untuk santri yang menghadapi masalah, melainkan juga berfungsi sebagai pendampingan umum bagi seluruh santri. Bimbingan diberikan kepada semua santri tanpa membedakan kelas maupun gender, sedangkan konseling lebih diarahkan pada santri yang mengalami persoalan pribadi, kesulitan belajar, masalah sosial, maupun perencanaan karier. Dengan demikian, bimbingan konseling memiliki peran menyeluruh, mulai dari membimbing perkembangan diri hingga membantu menata masa depan.
Dalam praktiknya, guru BK menggunakan pendekatan kelompok maupun individual. Ustazah Nurul menjelaskan bahwa salah satu metode yang dijalankan adalah bimbingan kelompok, di mana santri dikumpulkan secara bergiliran untuk saling berbagi pengalaman. Dari kegiatan tersebut lahirlah konseling sebaya (peer counseling), yang memungkinkan para santri saling mendukung dan memberikan solusi. Selain itu, bagian konseling juga menerima laporan dari wali santri, wali kelas, wali asrama, maupun bagian pengasuhan untuk menindaklanjuti setiap kasus yang muncul di lingkungan pesantren.
Salah satu isu yang paling sering menjadi perhatian adalah bullying. Ustazah Nurul menegaskan bahwa bullying sangat berbahaya karena dapat menimbulkan dampak serius, baik secara fisik maupun psikis. Tidak sedikit korban bullying kehilangan semangat, prestasinya menurun, bahkan mengalami gangguan kesehatan akibat tekanan psikologis. Menurutnya, pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari tempat-tempat sepi yang rawan intimidasi, menumbuhkan empati, serta memilih lingkungan pertemanan yang sesuai dengan karakter masing-masing.
Pendekatan terhadap santri yang kerap melanggar aturan juga membutuhkan kesabaran dan strategi khusus. Ada santri yang cukup dibina sekali lalu berubah, namun ada pula yang memerlukan pembinaan berulang kali. Untuk itu, bagian konseling menerapkan program evaluasi mingguan dengan pemberian tugas dan penilaian berkesinambungan hingga perilaku santri menunjukkan perubahan positif.
Dalam wawancara, Ustazah Nurul juga menyoroti fenomena santri yang melampiaskan perasaan dengan mencoret-coret tangan seperti barcode. Ia menilai perilaku tersebut berbahaya karena berisiko melukai diri sendiri, bahkan hingga mengenai bagian nadi. Menurutnya, tindakan itu merupakan bentuk pelarian emosi yang keliru, sehingga perlu diarahkan agar santri dapat menyalurkan rasa kecewa dan marah dengan cara yang lebih sehat.
Di akhir wawancara, Ustazah Nurul menegaskan bahwa peran guru konseling bukan sekadar membina, tetapi juga mendampingi dan memahami karakter, minat, serta bakat santri. Dengan cara itu, santri dapat berkembang sesuai potensinya tanpa merasa terbebani. “Kalau kita tidak mengenal diri sendiri, kita akan mudah bosan dengan sekolah atau pekerjaan. Maka penting bagi santri mengenali potensi diri sejak dini,” ujarnya. (Salsabila, Santriwati Kelas Media dan Jurnalistik)

