Beranda blog Halaman 10

Peran Pesantren Al-Manar Tanggapi Banjir Aceh melalui Laziswaf dan SAGANA Salurkan Donasi Rp133.684.000

0
Peran Pesantren Al-Manar Tanggapi Banjir Aceh melalui Laziswaf dan SAGANA Salurkan Donasi Rp133.684.000

Saat Aceh dilanda musibah banjir dan longsor pada akhir tahun 2025, Pesantren Modern Al-Manar langsung mengambil peran sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Pesantren membentuk Relawan SAGANA (Santri Siaga Bencana) yang bernaung di bawah lembaga amil zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Laziswaf) Al-Manar untuk menggalang serta menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana.

Melalui Laziswaf dan SAGANA, pesantren berhasil menghimpun total donasi sebesar Rp133.684.000, yang disalurkan dalam tiga tahap sejak Desember 2025 hingga Februari 2026. Bantuan ini tidak hanya berupa uang tunai, tetapi juga logistik dan sembako untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat korban banjir dan longsor.

Kamis sore, 11 Desember 2025, Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar, Dr. Tgk. H. Ikhram M. Amin, M.Pd, secara langsung melepas keberangkatan Tim Laziswaf Al-Manar dan Relawan SAGANA untuk menyalurkan bantuan tahap pertama. Dalam misi tersebut, Pimpinan Pesantren turut serta langsung bersama tim di lapangan sebagai bentuk kepemimpinan dan kepedulian langsung terhadap kondisi masyarakat terdampak. Kolaborasi dengan Pondok Sahabat Al-Qur’an Karim Jambi menghasilkan donasi tahap pertama sebesar Rp30.345.000 yang disalurkan dalam bentuk sembako dan logistik kebutuhan mendesak, seperti beras, telur, mi instan, minyak goreng, kue kering, popok bayi, pakaian, masker, sabun mandi, dan sabun cuci.

Setelah tahap pertama, penyaluran tahap kedua berlangsung pada 2–7 Januari 2026 di Aceh Tengah dan Bener Meriah, melalui posko dapur umum, rumah warga, dan wali santri yang terdampak bencana. Total donasi tahap kedua sebesar Rp68.740.000 berasal dari berbagai donatur, termasuk IMATX (Indonesian Muslim Association in Greater Austin), Texas, Amerika Serikat Rp5.250.000, Muhsinin Baitul Mal Pancot, Karanganyar, Jawa Tengah Rp6.000.000, Donatur Singapura (Cikgu Adam bin Aid and Friends) Rp18.000.000, serta Muhsinin Masjid Besar Al-Huda, Mertoyudan, Magelang Rp11.000.000. Bantuan juga datang dari Idealist Leader Alumni Gontor 2011 Rp3.000.000, Keluarga Besar Almh. Zuhra binti Walad Rp4.000.000, serta masyarakat, wali santri, santri, guru, dan alumni Al-Manar secara individu Rp21.490.000.

Selain donasi uang tunai, Laziswaf Al-Manar juga menerima bantuan non-tunai dari Yayasan HaKA berupa filter air minum Nazava. Bantuan lainnya datang dari Gampong Cot Preh, masyarakat Maluku Utara, Aceh Besar, serta para muhsinin lainnya berupa Al-Qur’an, pakaian layak pakai, dan berbagai barang bermanfaat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Tahap ketiga dilaksanakan pada 12 Februari 2026 di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, dengan total donasi Rp34.599.000, termasuk sumbangan Penderma Singapura Rp12.898.000, IMATX Texas Rp7.000.000, dan kontribusi para muhsinin dan muhsinat Laziswaf Al-Manar. Bantuan ini disalurkan langsung kepada masyarakat yang memerlukan penanganan darurat dan dukungan logistik.

Kegiatan kemanusiaan ini tidak hanya menyalurkan bantuan material, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi para santri. Melalui SAGANA, santri belajar tanggung jawab sosial, kepedulian, kerja sama, dan cara merespons bencana dengan cepat, sehingga nilai-nilai kemanusiaan tertanam sejak dini.

Kolaborasi antara Laziswaf Al-Manar, SAGANA, dan para donatur menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pusat aksi sosial yang efektif. Pendekatan ini memadukan semangat gotong royong santri dengan dukungan alumni, wali santri, masyarakat, dan lembaga kemanusiaan, sehingga dampak bantuan dapat menjangkau lebih banyak warga terdampak.

Secara keseluruhan, melalui tiga tahap penyaluran, Laziswaf Al-Manar dan SAGANA berhasil menyalurkan total bantuan senilai Rp133.684.000, baik berupa uang tunai maupun logistik, ke berbagai wilayah terdampak banjir Aceh. Pihak pesantren mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur, baik dari dalam maupun luar negeri, atas kepercayaan dan dukungan mereka sehingga bantuan ini dapat tersalurkan tepat sasaran. Langkah ini membuktikan bahwa pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan, tetapi juga hadir sebagai pusat kepedulian dan aksi kemanusiaan yang nyata.

Seperempat Abad Al Manar: Bergerak, Berdampak, Menyemai Peradaban

0
Seperempat Abad Al Manar: Bergerak, Berdampak, Menyemai Peradaban

Oleh: Syafrizal Elselatany, Kabid. Humas Al Manar

Dua puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi sebuah lembaga pendidikan. Terlebih lagi bagi pesantren yang lahir dari keprihatinan sosial, tumbuh dalam dinamika Aceh, dan dibangun di atas semangat pengabdian. Seperempat abad Pesantren Modern Al Manar adalah kisah tentang keteguhan langkah, pengorbanan tanpa pamrih, dan perjuangan panjang menyiapkan generasi umat untuk masa depan yang lebih bermartabat.

Di Desa Lampermai, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Al Manar berdiri bukan sekadar sebagai institusi pendidikan. Ia hadir sebagai rumah harapan bagi anak-anak yatim, kaum dhuafa, dan generasi yang pernah merasakan getirnya konflik dan bencana. Dari tempat inilah cahaya pendidikan dinyalakan—pelan namun pasti—untuk menerangi jalan masa depan umat.

Pesantren ini lahir dari cita-cita mulia Almarhum H. Azhar Manyak, atau yang akrab dikenal sebagai Abu Manyak Ulee Kareng. Beliau meyakini bahwa pendidikan adalah jalan perubahan. Bahwa anak-anak yatim dan fakir miskin berhak mendapatkan pendidikan terbaik, bukan hanya untuk menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter, akhlak, dan jiwa pengabdian.

Karena itu, sejak awal Al Manar dibangun bukan dengan semangat bisnis, melainkan dengan ruh perjuangan. Ia tumbuh untuk umat, bergerak demi kemaslahatan, dan hadir sebagai bagian dari solusi bagi masyarakat. Nilai inilah yang membuat Al Manar tetap kokoh berdiri hingga hari ini.

Nama “Al Manar” sendiri bermakna cahaya dan menara penerang. Sebuah nama yang mengandung doa besar agar pesantren ini menjadi sumber cahaya bagi umat dan melahirkan generasi yang mampu menerangi zaman. Seiring perjalanan waktu, doa itu perlahan menemukan jawabannya.

Dari hanya puluhan santri pada masa awal berdiri, kini Al Manar telah berkembang menjadi pesantren modern dengan ribuan santri dan fasilitas pendidikan yang terus bertumbuh. Para alumninya tersebar di berbagai perguruan tinggi nasional dan internasional, hadir di tengah masyarakat sebagai guru, dai, akademisi, birokrat, politikus, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya.

Inilah bukti nyata bahwa pesantren bukan hanya melahirkan ahli agama, tetapi juga melahirkan generasi yang berdampak bagi kehidupan sosial dan pembangunan peradaban.

Namun capaian itu tidak lahir dalam kemudahan.

Ada perjuangan panjang yang sering kali tak terlihat. Ada guru-guru yang dengan penuh kesabaran mengajarkan huruf demi huruf kepada santri. Ada malam-malam panjang ketika para ustaz membangunkan santri untuk belajar dan beribadah di tengah keterbatasan. Ada masa konflik Aceh yang membuat dunia pendidikan berjalan dalam suasana penuh ketidakpastian. Ada pula tragedi tsunami yang menguji ketahanan pesantren dalam kondisi serba darurat.

Tetapi justru dari ujian itulah Al Manar ditempa.

Pesantren ini tidak dibesarkan oleh kemewahan, melainkan oleh keikhlasan. Tidak tumbuh karena fasilitas berlimpah, tetapi karena keyakinan bahwa mendidik generasi umat adalah bagian dari perjuangan besar membangun masa depan bangsa.

Jejak perjuangan Abu Manyak masih terasa hingga kini. Meski beliau telah wafat pada 24 Januari 2016, nilai-nilai yang diwariskannya tetap hidup dalam denyut perjalanan pesantren. Beliau memahami bahwa pesantren harus tetap independen, berdiri di atas semua golongan, dan tidak menjadi alat kepentingan tertentu. Karena itulah Al Manar mampu menjaga marwahnya sebagai lembaga pendidikan umat.

Hari ini, ketika menoleh ke belakang, kita menyadari bahwa perjalanan 25 tahun Al Manar bukan sekadar perjalanan sebuah lembaga pendidikan. Ini adalah perjalanan cita-cita besar tentang bagaimana pendidikan Islam harus hadir: bergerak menjawab tantangan zaman, berdampak bagi masyarakat, dan menyemai peradaban.

Usia 25 tahun bukanlah garis akhir. Ini adalah gerbang menuju fase baru yang lebih matang. Tantangan dunia pendidikan semakin kompleks—digitalisasi, perubahan sosial, krisis moral generasi muda, hingga arus globalisasi—semuanya menuntut pesantren untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.

Al Manar memiliki modal besar untuk menjawab tantangan itu: tradisi keilmuan, sistem pendidikan terpadu, kultur pengabdian, dan jaringan alumni yang terus berkembang. Dengan modal tersebut, Al Manar memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pendidikan Islam modern yang diperhitungkan, bukan hanya di Aceh, tetapi juga di tingkat nasional dan internasional.

Cita-cita besar mendirikan perguruan tinggi Al Manar pun menjadi langkah penting agar manfaat perjuangan pendidikan ini semakin luas dirasakan umat.

Namun di atas semua itu, satu hal yang harus terus dijaga adalah ruh keikhlasan. Sebab sejarah membuktikan, banyak lembaga besar runtuh bukan karena kekurangan fasilitas, melainkan karena kehilangan semangat pengabdian.

Semoga Al Manar terus menjadi cahaya bagi umat. Semoga para guru dan pengurusnya senantiasa diberi kekuatan, keikhlasan, dan istiqamah dalam mendidik generasi bangsa. Semoga para alumninya menjadi manusia-manusia yang membawa manfaat dan keberkahan di mana pun berada.

Dan semoga Allah SWT menerima seluruh amal jariyah Almarhum H. Azhar Manyak, melapangkan kuburnya, meninggikan derajatnya bersama orang-orang saleh, serta menjadikan setiap ilmu dan kebaikan yang lahir dari Pesantren Modern Al Manar sebagai pahala yang terus mengalir tanpa putus.

Seperempat abad telah berlalu.
Namun cahaya itu masih menyala.

Dan mudah-mudahan akan terus menyala, bergerak memberi manfaat, berdampak bagi umat, serta menyemai peradaban untuk masa depan.

25 tahun Pesantren Modern Al Manar

Bergerak, Berdampak, Menyemai Peradaban