Beranda blog Halaman 11

Belajar Makna Keluarga di Tengah Musibah

0
Belajar Makna Keluarga di Tengah Musibah

Oleh : Fathin Hafy, Kelas I Aliyah Al Manar, Kelas Media dan Jurnalistik

Pada Minggu pagi, 07 Desember 2025, kami sedang bersiap untuk mengikuti ujian lisan di pesantren. Namun, suasana mendadak berubah ketika salah satu akhun pesantren menyampaikan informasi bahwa pada pagi itu juga Pesantren Modern Al-Manar memulangkan seluruh santri. Keputusan tersebut diambil sebagai respons atas bencana alam yang melanda wilayah Sumatra dan sekitarnya.

Setibanya di rumah, hal pertama yang saya lakukan adalah membersihkan kamar dan seluruh bagian rumah. Sebagian kamar kami terendam air banjir setinggi mata kaki. Beberapa hari kemudian, keluarga kami menerima kabar bahwa keluarga ayah di Bener Meriah dalam keadaan selamat. Namun, kebun mereka hilang akibat tanah longsor yang dalam dan dipenuhi bebatuan besar.

Setelah melalui diskusi panjang bersama keluarga, ayah berniat melakukan perjalanan menuju Takengon dan Bener Meriah. Namun, di tengah perjalanan kami terpaksa putar arah dan kembali ke rumah, karena jembatan yang biasa menjadi akses utama terputus total.

Selama berada di rumah, saya lebih sering membantu orang tua. Setiap hari saya mengambil dan menimba air sumur, berbelanja bahan makanan ke pasar, serta menjemput adik sepulang sekolah. Semua itu saya lakukan karena melihat ayah berjuang keras demi keluarga, terlebih dalam kondisi sulit saat air bersih, listrik, dan bahan dapur sangat terbatas. Belum lagi pekerjaan ayah yang menguras tenaga dan pikiran.

Di sela-sela tanggung jawab menjaga rumah, saya dan beberapa teman sesekali pergi ke warkop untuk mengisi daya telepon genggam. Biasanya kami kembali ke rumah sekitar pukul 03.00 dini hari.

Beberapa minggu sebelum kembali ke pesantren, tepatnya pada malam tahun baru, kami sekeluarga mengadakan acara bakar-bakar bersama tetangga. Ada yang membakar ikan, ayam, daging, sosis, dan nugget. Namun, suasana itu tidak sepenuhnya diwarnai kegembiraan, karena masih ada keluarga dan saudara kami yang terdampak bencana.

Oleh karena itu, setelah acara bakar-bakar, kami melaksanakan Samadiyah dan doa bersama untuk para korban bencana di Sumatra dan sekitarnya.

Pimpinan Pesantren Al Manar Ingatkan Santri Agar Tidak Money Oriented

0
Pimpinan Pesantren Al-Manar Ingatkan Santri Agar Tidak Money Oriented

ALMANAR.ID â€“ Pesantren Modern Al-Manar menggelar apel pembukaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 pada Selasa, 6 Januari 2026. Apel tersebut diikuti oleh seluruh santri, guru, dan pengurus pesantren.

Pada kesempatan tersebut, Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar, Dr. Tgk. H. Ikhram M. Amin, M.Pd, menyampaikan arahan dan nasihat penting kepada seluruh santri. Salah satu pesan utama yang ditekankan adalah agar santri tidak menjadi pribadi yang money oriented selama menjalani masa pendidikan di pesantren.

Dalam amanatnya, beliau menegaskan bahwa santri dibina untuk lebih dahulu menanamkan dan mendalami nilai-nilai keikhlasan sebagai bekal utama selama proses pendidikan dan pembinaan di lingkungan pesantren.

Beliau juga menegaskan larangan keras kepada guru dan pengurus untuk memberikan uang kepada santri dari hasil kegiatan tertentu. Menurut beliau, masa di pesantren merupakan masa pendidikan, sehingga santri tidak boleh dibiasakan menerima imbalan uang dari setiap kegiatan yang diikuti agar tidak menumbuhkan ketergantungan terhadap materi.

@pesantrenalmanar

Selasa, 6 Januari 2026, pada apel pembukaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Semester Genap, Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar, Dr. Tgk. H. Ikhram M. Amin, M.Pd, menyampaikan arahan dan nasihat kepada seluruh santri. Dalam amanatnya, beliau mengingatkan agar santri tidak menjadi pribadi yang money oriented selama menjalani masa pendidikan di pesantren. Santri dibina untuk lebih dahulu menanamkan dan mendalami nilai-nilai keikhlasan sebagai bekal utama selama proses pembinaan dan pendidikan. Beliau juga menegaskan larangan keras kepada guru dan pengurus untuk memberikan uang kepada santri dari hasil kegiatan tertentu. Menurut beliau, masa di pesantren adalah masa pendidikan, sehingga santri tidak boleh dibiasakan menerima imbalan uang dari setiap kegiatan yang diikuti agar tidak menumbuhkan ketergantungan terhadap materi. Beliau menambahkan bahwa kelak akan ada waktunya seseorang dibayar atas profesionalitas dalam dunia kerja. Namun, setelah menyelesaikan masa pendidikan, santri akan hidup di tengah masyarakat dan dituntut untuk bekerja dengan penuh keikhlasan, terutama dalam pengabdian kepada masyarakat, tanpa serta-merta meminta imbalan terlebih dahulu. Nilai keikhlasan tersebut menjadi fondasi penting sebelum santri memasuki dunia kerja yang profesional. Oleh karena itu, selama masa pendidikan di pesantren, santri dilarang menerima upah atau reward berupa uang dari kegiatan tertentu yang diselenggarakan atau diizinkan oleh pesantren. Meski demikian, pesantren tetap memperbolehkan bentuk apresiasi lain yang bersifat edukatif dan kebersamaan, seperti mengadakan haflah atau makan bersama, sebagai ungkapan syukur dan penguatan ukhuwah. #PesantrenModernAlManar #ManaraMedia #HumasAlManar #AlManarDaily #santrialmanar #pesantrenalmanaracehbesar #fypppppppppppppppppppppp #PesantrenModern

♬ suara asli – Pesantren Al Manar Aceh Besar – Pesantren Al Manar Aceh Besar

Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa kelak akan ada waktunya seseorang dibayar atas profesionalitas dalam dunia kerja. Namun setelah menyelesaikan masa pendidikan, santri akan hidup di tengah masyarakat dan dituntut untuk bekerja dengan penuh keikhlasan, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat, tanpa serta-merta meminta imbalan terlebih dahulu. Nilai keikhlasan tersebut menjadi fondasi penting sebelum santri memasuki dunia kerja yang profesional.

Oleh karena itu, selama masa pendidikan di pesantren, santri dilarang menerima upah atau reward berupa uang dari kegiatan tertentu yang diselenggarakan atau diizinkan oleh pesantren. Meski demikian, pesantren tetap memperbolehkan bentuk apresiasi lain yang bersifat edukatif dan kebersamaan, seperti mengadakan haflah atau makan bersama, sebagai ungkapan syukur dan penguatan ukhuwah antarwarga pesantren.