Puisi-Puisi Darwin

Wajib Baca

yang belum sempat aku dengar

; untuk Soesan Setiastami

aku belum pernah mendengar dari laut bahwa kasih lebih lembut dari kasihmu.

aku belum pernah mendengar dari langit bahwa sayang lebih jernih dari sayangmu.

aku belum pernah mendengar dari gunung bahwa cinta lebih kokoh dari cintamu.

aku belum pernah mendengar dari sungai bahwa doa lebih deras dari doamu.

aku belum pernah mendengar dari hutan bahwa kangen lebih tak terlihat dari kangenmu.

aku belum pernah mendengar dari hujan bahwa suara lebih merdu dari suaramu.

aku belum pernah mendengar dari kemarau bahwa amarah lebih kering dari amarahmu.

segala yang berasal darimu, membawaku melihat lebih dekat keindahan tuhan.

baca juga: Bagaimana Ronasofie Membuat Pawang Hujan Mimisan

diam-diam

; untuk Soesan Setiastami

diam-diam tuhan menghujaniku dengan kangen. setelah hujan sore tadi, rumahku dipangku kesepian. pintu terbuka sejak siang, dan kangen seperti angin yang mengempaskan sajak-sajak usang.

diam-diam aku meminta seluruh nabi dan malaikat mendoakanku, sebab bekerja dan berdoa saja tidak cukup untuk menyampaikan kangenku kepadamu.

diam-diam takdir tidak memangku kita sekarang. kau di seberang jalan, berdoa di antara pohon-pohon. aku akan menyeberang saat lalu lintas lengang dan telapak tanganmu membentang.

usaha menghapus nama

;

apakah kau berusaha menghapus namamu setelah apa yang telah tercuri dari hatiku? lampu-lampu kota menyala siang hari, dan tak seorang pun berusaha memadamkannya. kau selalu menunjuk namaku di papan reklame di seberang jalan Nyak Makam, dan burung-burung hinggap di besi-besi hitam, membuatku lengah, hingga tiba-tiba aku jatuh—cinta?—lagi ke dalam ingatan lini masa.

di radio seorang penyiar menyebut namamu lima belas kali. kudengar, kau memesan lima lagu; lima lagu agar hidupmu stay on track. gila bener! mantap! malamnya aku tidur nyenyak dan memimpikan doa-doa terkabul, satu per satu menaiki tangga langit, bagai bocah-bocah putih dalam cerita dongeng mendulang bintang-bintang.

hari-hari ini ada kebiasan buruk yang kita kenal baik: membeli penghapus sebanyak-banyaknya dan menghapus percakapan yang tak sempat terjadi. kita mengulangnya di hari saat cuaca buruk. lalu kita membawa pulang kekesalan masing-masing dan menghidangkannya kepada orang lain. tak ada yang lebih dingin dari pada kemarahan yang diakhiri dengan seringai dan kita tidak pernah mengenali cinta sejenis itu.

apakah kita pernah berjanji untuk muncul di persimpangan? penjual balon ulang tahun mewarnai jalan kita? apakah kau juga melihat apa yang kulihat pagi itu di kaki langit? di persimpangan jalan kita berjumpa dan tak pernah lagi mengharapkan satu sama lain, kecuali sebuah keselamatan menuju jalan panjang.

24 jam

;

tuhan, 24 jam aku mengulang-ulang namanya. doa-doaku runtuh ke laut dan ikan-ikan besar menyemburnya ke udara tanpa ada tangan-tangan yang menyelamatkan. berdosakah aku, tuhan, setiap kali kusebut namamu kusebut pula namanya? tetapi begitu berhasil kusebut namamu saja aku tertawa riang dan kemudian namanya membuatku meriang.

saat namanya disebut aku juga menoleh, seakan-akan nama itu untuk mengenali diriku. padahal kami begitu berbeda; ujung sepatu hingga kuku jari. kecuali dalam mimpi, kami begitu serupa. tetapi, tuhan, tirai kami telah tersingkap dan ia berpura-pura tak pernah tahu siapa pemeran dalam cerita yang telah kami mulai. karena begitu, aku hendak melaporkan kegiatanku kepada engkau:

aku bangun tidur lalu mengusap mataku yang tak pernah melihat selain dia. pukul tujuh aku berjemur, karena matahari yang baru saja terbit berasal dari matanya. pukul delapan aku mandi, membasuh kangen sisa semalam. pukul sembilan aku masak, dengan api hasil kami marah-marahan. pukul sepuluh, aku menyiram bunga, lebih lambat dari seharusnya. pukul sebelas aku menyanyi lagu Bunga-Bunga di Bulan. pukul satu aku tidur siang dan bangun sore; merayakan mimpi para kecoak.

malamnya aku mengadu; ya tuhan, aku mengulang-ulang ingatan tentang dia dan tak pernah ada waktu untukmu, apakah aku akan bangun di dunia lain sebagai seseorang yang tak punya ingatan sama sekali?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Pimpinan Pesantren Al Manar Ingatkan Keteladanan Guru pada Momentum Hardiknas

Pimpinan Pesantren Modern Al Manar, Dr. Tgk. H. Ikhram M. Amin, M.Pd, menegaskan pentingnya sikap keteladanan guru dalam amanatnya...

Lebih Banyak Artikel Seperti Ini