Pusat Pelayanan:

Santri Kelas Akhir Mulai Ikuti Bimbingan Amaliyah Tadris

Wajib Baca

ALMANAR.ID – Setelah selesai menuntaskan pertanggungjawaban serta serah terima amanat pengurus organisasi santri, santri kelas akhir langsung difokuskan pada kegiatan akademik yang menunjang santri kelas akhir sebagai pembekalan sebelum menjadi alumni, salah satunya praktek mengajar atau amaliyah tadris (micro teaching).

Senin, (5/2/2024), santri kelas akhir Pesantren Modern Al Manar mulai mengikuti bimbingan praktek mengajar (Amaliyah Tadris) yang dipusatkan di gedung China.

Pada pembukaan bimbingan teknis amaliyah tadris perdana ini turut dihadiri oleh pimpinan pesantren, Dr. Tgk. H. Ikhram M. Amin, M.Pd, yang memberi arahan agar para santri kelas akhir agar serius mengikuti program praktek mengajar sebagai bekal masa depan santri.

Pada sesi bimbingan perdana ini, yang bertindak menjadi pemateri langsung koordinator bidang pendidikan dan pengajaran, Ust. Awaluddin, M.Pd, yang menjelaskan secara detail mengenai persiapan i’dad tadris dan teknis praktek mengajar.

Amaliyah Tadris atau sering disebut dengan Micro Teaching merupakan salah satu program pesantren untuk melahirkan guru-guru handal dan ideal. Program ini berlaku untuk santri kelas akhir yang akan segera mengakhiri pendidikannya di pesantren.

Amaliyah Tadris ini sendiri bertujuan agar para santri memiliki bekal dalam mengajar. Meskipun nantinya tidak semua dari mereka menjadi guru, karena mengajar tidak harus menjadi guru.

Selain melatih keterampilan dalam mengajar, Amaliyah Tadris ini juga mendidik mentalitas santri.

Dalam pelaksanaannya, santri ini diwajibkan untuk membuat persiapan atau sering disebut dengan istilah “I’dad Tadris” atau yang dikenal dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) terlebih dahulu sebelum tampil mengajar.

Setiap santri didampingi oleh guru pembimbing masing-masing, yang akan membimbing santri membuat dan menyusun I’dad Tadris atau RPP.

Para santri dibekali tentang metode mengajar (thariqah), materi yang akan disampaikan (maddah), bahasa yang akan digunakan (lughah), kepribadian guru ketika mengajar (ahwal mudarris), agar menjadi mudarris yang profesional. Selain itu, cara mengkritik (darsun an-naqd) juga disampaikan saat pembekalan agar santri belajar mengkritik dan mengevaluasi santri lainnya dengan baik.

Setiap santri akan ditentukan mata pelajaran sesuai kemampuan menurut penilaian bagian pengajaran. Tiap santri mendapat satu mata pelajaran dalam praktik mengajar. Pilihan mata pelajaran yang dipraktikkan terdiri atas dua kelompok, berbasis (pengantar) bahasa Arab dan yang berbasis bahasa Inggris.

Saat tampil mengajar, santri yang menjadi pengajar ini akan dinilai, diperhatikan, dievaluasi dan dicatat setiap kesalahan saat mengajar oleh guru pembimbing dan teman sekelasnya.

Setelah praktek mengajar ada kegiatan Darsun an-Naqd atau kegiatan Mengkritik Proses Belajar dan Mengajar, kegiatan inilah yang tidak kalah menarik dan menantang selain menjadi guru praktikan. Karena kritikan yang ditulis oleh teman kelompoknya, akan dibahas, dievaluasi bersama dalam forum dengan guru pembimbing dan teman-teman kelompoknya, selain itu yang mengkritik juga harus memberi ishlah atau perbaikan dari yang kesalahan tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terbaru

Membangun Pesantren Tangguh di Era Global: Dialog Inspiratif Pimpinan Pesantren Al Manar dan Rektor UNIDA Gontor

ALMANAR.ID – Dalam sebuah pertemuan hangat di Solong Coffee Jembatan Pango, Banda Aceh, Pimpinan Pesantren Modern Al Manar, Dr. Tgk. H....

Lebih Banyak Artikel Seperti Ini