Oleh : Andi Abyan, Kelas I Aliyah Al Manar, Kelas Media dan Jurnalistik
Hujan turun tanpa jeda. Selama hampir satu minggu, air menggenangi rumah-rumah di sejumlah wilayah Aceh. Di rumah, setiap hari saya membersihkan sisa genangan yang masuk ke dapur, kamar, hingga halaman. Rutinitas sederhana itu menjadi bagian dari upaya bertahan di tengah cuaca yang tak bersahabat.
Kondisi semakin terasa berat ketika listrik padam dan belum juga kembali normal. Bersama kawan-kawan, kami mencari kafe-kafe terdekat sekadar untuk mengisi daya telepon genggam, power bank, hingga kipas angin mini. Tempat-tempat itu menjadi ruang singgah sementara untuk tetap terhubung dan melanjutkan aktivitas harian.
Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Di Banda Aceh dan Aceh Besar, cabai, gas, dan bensin menjadi barang yang sulit dijangkau. Harga cabai bahkan menembus angka Rp200.000 per kilogram. Terputusnya akses jalan menuju Takengon menjadi salah satu penyebab utama kelangkaan tersebut.
Di balik semua kesulitan itu, musibah ini menyimpan pelajaran berharga. Tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang sering kali terasa biasa. Sebab, di saat kondisi sulit seperti inilah, kita belajar menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya kerap terabaikan.

