Beranda blog Halaman 68

Pesantren Al Manar Gelar Tes Santri Baru Gelombang Kedua

0

ALMANAR.ID Pada hari Ahad (19 januari 2025) Pesantren Modern Al-Manar mengadakan tes penerimaan santri baru gelombang kedua yang diikuti oleh ratusan calon santri dari berbagai daerah. Acara ini dimulai dengan apel pagi yang berlangsung khidmat di lapangan mini pesantren, yang dihadiri oleh seluruh calon santri dan calon wali santri. Apel pagi ini dibuka secara langsung oleh Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar, Ustadz Dr. H. Tgk. Ikhram M. Amin, S.S., M.Pd., yang memberikan sambutan penuh semangat sekaligus memberikan arahan kepada calon santri dan orang tua yang hadir.

“Pesantren Modern Al-Manar bukan hanya tempat untuk menuntut ilmu agama, tetapi juga untuk membentuk karakter dan kepribadian yang mulia. Kami ingin para calon santri yang bergabung di sini memiliki komitmen kuat dalam menjalani pendidikan dengan penuh kesungguhan,” ujar Ustadz Ikhram dalam sambutannya.

Pada gelombang kedua ini, jumlah calon santri yang mengikuti tes mencapai 101 orang untuk tingkat Tsanawiyah (SMP) yang terdiri dari santri putra dan putri, serta 24 calon santri untuk tingkat Aliyah (SMA). Jumlah ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap Pesantren Modern Al-Manar

Setelah apel pagi, para calon santri langsung diarahkan menuju ruang kelas untuk mengikuti ujian tulis yang merupakan bagian dari seleksi masuk. Ujian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan akademis para calon santri, termasuk dalam mata pelajaran dasar seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.

Tidak hanya ujian tulis, para calon santri juga diwajibkan mengikuti ujian wawancara dan ujian Al-Qur’an. Ujian wawancara merupakan bagian penting dalam proses seleksi untuk mengetahui lebih dalam tentang motivasi dan niat para calon santri dalam menuntut ilmu di pesantren. Selama wawancara, para calon santri diberi kesempatan untuk berbicara langsung dengan penguji mengenai alasan memilih pesantren dan harapan mereka untuk masa depan.

Pada ujian wawancara, calon wali santri juga diwajibkan untuk mengikuti sesi wawancara. Hal ini bertujuan agar pihak pesantren dapat mengetahui komitmen dan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak mereka di Pesantren Modern Al-Manar. Para orang tua juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan harapan mereka terkait pendidikan anak-anak mereka di pesantren, serta memastikan mereka memahami sepenuhnya sistem pendidikan yang diterapkan di pesantren.

Setelah mengikuti seluruh rangkaian ujian, para calon santri dipersilakan untuk kembali ke rumah dan menunggu pengumuman hasil seleksi. Proses seleksi yang ketat ini diharapkan dapat menghasilkan santri-santri yang memiliki kualitas akademik dan moral yang baik, yang siap untuk menuntut ilmu di lingkungan pesantren yang penuh dengan disiplin dan nilai-nilai agama.

Ust. Masrul Aidi Soroti Risiko Libur Panjang Ramadan bagi Pendidikan Anak

0
Ust. Masrul Aidi Soroti Risiko Libur Panjang Ramadan bagi Pendidikan Anak

ALMANAR.ID –Sabtu malam, 11 Januari 2025, Al Manar Podcast kembali menghadirkan sosok inspiratif sebagai narasumber, yaitu Ust. Masrul Aidi, Pimpinan Dayah Babul Maghfirah, Aceh Besar. Sebagai salah satu ulama muda yang berpengaruh di Aceh, beliau membagikan wawasan mendalam terkait perkembangan pendidikan pesantren di Indonesia, tantangan yang dihadapi, serta pandangannya terhadap wacana libur sekolah di bulan Ramadan.

Dalam perbincangan hangat ini, Ust. Masrul Aidi menceritakan perjalanan hidupnya dalam menuntut ilmu, termasuk kisah penuh hikmah bersama almarhum ayahandanya, Abu Madinah. Kisah tersebut menjadi teladan bagi para santri untuk senantiasa menghormati orang tua dan guru sebagai kunci keberkahan ilmu.

Pandangan tentang Wacana Libur Sekolah di Bulan Ramadan

Topik lain yang tak kalah menarik adalah pandangan Ust. Masrul Aidi terhadap wacana pemerintah untuk meliburkan sekolah selama bulan Ramadan. Menurut beliau, Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan spiritual, baik di pesantren maupun sekolah umum. “Libur panjang tanpa arah justru berisiko menurunkan akhlak anak-anak, terutama jika pengawasan orang tua terbatas,” jelasnya.

Beliau juga menyoroti dampak kebijakan ini terhadap guru honorer yang tidak memiliki penghasilan tetap. “Kebijakan ini harus mempertimbangkan banyak aspek, termasuk kesejahteraan guru honorer dan efektivitas pendidikan selama Ramadan,” tambahnya.

Ust. Masrul mengingatkan bahwa pembelajaran selama Ramadan tidak harus berhenti, melainkan dapat disesuaikan untuk memperdalam pemahaman keagamaan dan nilai-nilai ibadah. Dengan demikian, Ramadan dapat menjadi bulan penuh keberkahan sekaligus pembelajaran yang bermakna.

Pembahasan ini menjadi salah satu episode yang penuh inspirasi dan wawasan mendalam. Ust. Masrul Aidi mengajak masyarakat untuk terus mendukung pendidikan pesantren dan memahami pentingnya menjaga nilai-nilai tradisional dalam menghadapi tantangan zaman.