Beranda blog Halaman 58

Sederhana Akar Cinta Dunia

0
Sederhana Akar Cinta Dunia


Oleh Shibghatullah Arrasyid, M.Pd*

Berapa banyak orang yang tidak bisa mengendalikan syahwatnya hingga rela menghamburkan segala hartanya untuk menikmati kenikmatan dunia. Mereka lupa akan tujuan hidup mereka dan sibuk mengejar harta, terus menggali uang, tanpa menyadari bahwa mereka telah melupakan Tuhan mereka. Mereka bahkan tidak tahu lagi mana yang halal dan mana yang haram, sehingga jasad dan rohaninya pun menjadi binasa.

Belum lagi para pemuda yang menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk menghabiskan waktu di warung kopi, bermain game, terlena dalam dunia yang fana. Mereka tidak memanfaatkan waktu untuk bekerja, mengolah sawah, atau melakukan hal-hal yang bermanfaat. Bahkan masa muda mereka pun terbuang sia-sia. Para pelajar pun tidak fokus, tidak memanfaatkan waktu untuk menambah ilmu yang kelak akan mengantarkan mereka pada kehidupan yang cerah. Namun semua itu hilang karena mengikuti syahwat dan hawa nafsu. Akibatnya, banyak kaum wanita yang terpaksa bekerja mencari nafkah, dan para pemuda yang tidak memanfaatkan waktu mereka saat muda, kelak ketika tua hanya bisa duduk di rumah, tidak dihormati oleh keponakan dan saudara-saudaranya. Mereka hanya menghabiskan waktu muda dengan sia-sia, tanpa makna.

Ada pula yang mencari harta sebanyak-banyaknya, namun tidak membelanjakannya. Mereka tidak menikmati hasil jerih payah mereka, tidak makan enak, karena tujuan hidup mereka hanyalah untuk mencari lebih banyak lagi harta. Namun, yang terbaik adalah mereka yang berada di tengah-tengahnya. Mereka tetap bekerja sesuai kemampuan mereka dan menikmati hidup. Pada hakikatnya, mereka mampu membelanjakan harta, tetapi tidak berlebihan. Mereka bisa makan enak, tetapi tidak melampaui kemampuan tubuh, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Mereka menikmati hidup, membelanjakan harta dengan bijak, dan tidak lupa beribadah.

Dalam syariat Islam, boleh saja merayakan cinta hingga empat istri, tetapi ada yang hanya mengenal kesanggupan dalam hal itu. Ia menikah satu, dua, hingga empat kali, namun kemudian menceraikan dua istri dan menikahi yang lain. Ia mengikuti hawa nafsunya, mencari yang perawan, lalu menikah lagi dengan janda, hingga ia memiliki anak yang tidak sempat dirawat dan dididiknya dengan baik. Amanah Allah yang seharusnya dijaga malah terbengkalai, dan anak-anaknya pun tumbuh dalam kekacauan. Ia melupakan konsep keadilan dan kesanggupan, sehingga sangat merugikan agama dan bangsa. Harapan untuk generasi masa depan pun hancur akibat broken home, dan kehidupan saat tua hanya akan berakhir dengan kesendirian dan nestapa, karena ia menyia-nyiakan waktu muda hanya untuk menikah, bukan untuk memaknai pernikahan dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Orang yang sederhana dalam beribadah juga tidak lupa dengan usahanya. Allah memerintahkan kita untuk shalat Jumat, namun juga memerintahkan untuk mencari rezeki. Rasulullah SAW memerintahkan untuk qiyamul lail, tetapi juga mengingatkan kita untuk memenuhi hak batin istri. Rasulullah juga menganjurkan untuk berpuasa, namun juga menganjurkan untuk berbuka dengan makan yang baik, sebagai hak tubuh. Rasulullah SAW sangat tidak menyukai sahabat yang tidak mau makan, tidak mau mencari rezeki, tidak mau memenuhi hak batin istri, atau tidak mau menikah. Beliau mengajarkan umat manusia untuk seimbang, tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga memperhatikan dunia mereka.

Kesederhanaan adalah kunci untuk menjalani hidup yang seimbang. Istiqamah dalam beribadah adalah kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus menjalankan roda kehidupan dengan penuh kebaikan. Kita harus jujur kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain, tidak mengambil hak orang yang bukan milik kita, dan tidak menguasai harta wakaf atau harta umat tanpa hak. Kita juga harus menghindari sifat bakhil, tamak, dan dengki, karena itu merusak akhlak umat manusia.

Berusaha menempuh jalan kebaikan dan mencapai budi pekerti yang luhur adalah tujuan utama. Kita harus menjauhi segala bentuk kedurjanaan dan menempuh jalan yang telah ditentukan oleh agama. Sebab agama Islam telah memilih jalan yang sederhana dan memberikan kemaslahatan baik di dunia maupun di akhirat.

Semoga dengan kesederhanaan, kita bisa menemukan kebahagiaan sejati dan hidup sesuai dengan tuntunan agama, untuk dunia yang lebih baik dan akhirat yang lebih baik pula.

*Ketua Ikatan Family Al Manar (IFA) Periode 2024-2029, saat ini menjadi kepala sekolah di SMA Nurul Ishlah Banda Aceh

[Cerpen] Rembulan yang Redup

0
[Cerpen] Rembulan yang Redup


Karya: Rizka Aizila

Santriwati Kelas IV Pesantren Modern Al Manar


“Memangnya anak seperti kamu bisa sukses?” Suara bentakan itu menggema di ruangan yang sempit. “Kerjamu cuma bikin orang tua susah saja!”

Hening. Seisi kelas terdiam. Mata-mata mulai tertuju pada mereka, mengamati dengan penuh perhatian. Alya, gadis yang menjadi sasaran bentakan itu, hanya bisa bungkam. Hatinya terasa sesak, pikirannya berkecamuk. Benarkah apa yang dikatakan ibunya?

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Hatinya remuk. Ibunya memarahinya dengan keras di hadapan banyak orang.

“Ibu, a… aku minta maaf. Jangan marah lagi, ya, Bu. Na… nanti Alya janji kok, un—”

“Untuk apa? Untuk nyusahin saya lagi?” Bentakan itu kembali mengiris hatinya.

Kini, segalanya benar-benar terasa hancur. Ibunya menyebut dirinya dengan kata saya. Untuk pertama kalinya, jarak itu terasa begitu nyata. Isakan Alya semakin jelas terdengar. Ia tak sanggup lagi menahan kesedihannya.

Hari ini seharusnya menjadi awal semangat baru untuknya. Namun, harapan itu telah pudar. Ibunya, yang diharapkannya menjadi penyemangat, justru menghancurkan hatinya dengan kata-kata yang tak seharusnya diucapkan. Hari ini adalah hari pembagian rapor. Tapi, ibunya memilih untuk memarahinya di depan umum.

“Bu… maafkan aku…” suaranya bergetar, berusaha meredam tangis.

Namun, hatinya terlalu sakit.

“Hari ini, saya kecewa padamu. Kamu tidak akan mendapatkan uang jajan selama satu tahun. Dan selama itu juga, saya tidak akan menjengukmu.” Sang ibu terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih menyakitkan, “Dan satu lagi, jangan panggil saya ibu lagi.”

Tanpa menoleh lagi, ibunya melangkah pergi, meninggalkan Alya yang kini berdiri di tengah tatapan penuh belas kasihan dari orang-orang di sekelilingnya.

Perlahan, Alya memungut rapor yang tadi dilempar ibunya ke lantai. Dengan langkah gontai, ia berjalan kembali ke asrama, membawa hati yang hampa.

Sesampainya di asrama, seorang teman menghampirinya. “Alya, tadi itu ibumu, kan? Kenapa beliau tega melakukan hal sekasar itu kepadamu?”

Alya terdiam sesaat. Ia menahan napas, mencoba mengumpulkan kekuatan sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Ah, ibuku hanya bercanda. Beliau sebenarnya orang yang baik.”

Di balik kata-katanya, hatinya seolah ditusuk ribuan jarum. Ia hanya ingin menutupi luka yang semakin dalam.

Waktu terus berlalu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Lima bulan telah lewat. Semua yang dikatakan ibunya benar-benar terjadi. Ibunya tidak pernah menjenguk, tidak pernah mengirim uang, seakan-akan ia bukan lagi anaknya. Namun, Alya tidak ingin menyerah. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya pantas untuk dibanggakan.

Ia belajar dengan tekun, tak peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Waktu terus berjalan hingga akhirnya, hanya tersisa satu minggu sebelum ujian semester dimulai.

“Apa kamu tidak lelah belajar terus-menerus?” tanya Shofi, teman dekatnya.

Alya tersenyum kecil. “Aku ingin benar-benar berusaha. Aku ingin membanggakan orang tuaku.”

Shofi terdiam. Hatinya terasa sesak mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Ia menatap Alya penuh iba, lalu memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan.

Saat ujian berlangsung, Alya tak pernah lelah belajar dan beribadah. Hingga akhirnya, tibalah hari yang paling ia takuti—hari pembagian rapor.

Pagi itu, seluruh santri berkumpul di masjid. Suara para wali santri terdengar riuh. Alya berharap ibunya datang. Namun, harapan itu sepertinya sia-sia. Ia tak kunjung melihat sosok yang dinantikannya.

Tiba-tiba, seseorang memanggil namanya. Ia menoleh. Wajah itu… Wajah yang selalu membuatnya resah dan takut. Namun, hari ini berbeda. Tatapan itu tidak lagi mengancam, melainkan penuh kerinduan.

Air matanya jatuh lagi.

Suara mikrofon terdengar. Kata sambutan untuk para wali santri mengalun dengan penuh kelembutan. Setelah itu, tibalah saat yang dinanti—pengumuman juara.

Alya menunduk, hatinya cemas. Namanya belum juga disebut.

Ya sudahlah. Tidak apa-apa. Toh, kata Ibu juga aku memang tidak bisa apa-apa… batinnya.

“Juara umum tahun ini jatuh kepada… Alya Nabila, dengan nilai rata-rata 8,95!”

Alya tertegun. “Apa? Alhamdulillah!”

Bahagia, ia berlari naik ke panggung. Terlalu buru-buru, ia melompat lima anak tangga sekaligus.

“BRAK!”

Dentuman keras itu membuat seluruh isi masjid menoleh. Pandangan Alya mulai kabur. Orang-orang mengerumuninya. Kepalanya terasa sakit. Hingga akhirnya, gelap.

Alya pingsan.

Tanpa sepengetahuan ibunya, pihak pesantren segera membawanya ke rumah sakit.

“Mana Alya? Mengapa ia belum turun ke sini?” tanya ibunya, mulai merasa gelisah.

MC kemudian meminta perwakilan untuk maju menerima penghargaan atas nama Alya. Sang ibu melangkah ke depan dengan hati yang semakin berdebar.

Setelah acara usai, ia mendapat kabar bahwa Alya dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh. Tanpa berpikir panjang, ia segera menuju rumah sakit bersama beberapa pengurus pesantren.

Saat tiba di sana, ia langsung menuju kamar Alya. Tubuh anaknya tampak lemah. Nafasnya tersengal.

“Alya, bangun, Nak…” bisiknya, penuh harap.

Perlahan, Alya membuka matanya. Pandangannya buram, tetapi ia masih bisa mengenali wajah yang begitu dirindukannya.

“Ibu… Alya nggak apa-apa kok… Alya senang bisa mewujudkan keinginan Ibu. Ibu tahu nggak? Aku rindu sekali sama Ibu… Maafkan aku, ya, Bu…”

Tangis ibunya pecah. Ia menggenggam erat tangan anaknya.

“Alya, jangan bicara seperti itu. Ini semua salah Ibu, bukan salahmu, Nak… Ibu menyesal…”

Alya tersenyum lemah, jemarinya yang kecil semakin erat menggenggam tangan ibunya.

“Bu, aku punya permintaan. Tolong kabulkan, ya?” Suaranya semakin lirih.

“Apa, Nak? Ibu akan lakukan apa saja untukmu…”

“Ibu… bahagia, ya? Dan ingat selalu wajah Alya…”

Ibunya terisak, rasa bersalah mengoyak hatinya. Dengan lirih, ia berbisik, “Alya, kamu bisa dengar Ibu, kan?”

Tit… tit… tit… (bunyi monitor EEG – Elektroensefalografi di rumah sakit)

Tangisnya pecah. Ia memeluk tubuh kecil itu, merasakan kehangatan yang kini terasa begitu jauh.

“Alya…”


Selesai.