Beranda blog Halaman 50

Buka Puasa IFA: Mengulang Kisah Kebersamaan dan Menguatkan Ikatan

0
Buka Puasa IFA: Mengulang Kisah Kebersamaan dan Menguatkan Ikatan

Ahad, 16 Maret 2025, bertepatan dengan 16 Ramadhan 1446 H, menjadi hari yang penuh kebersamaan bagi para alumni Pesantren Modern Al-Manar yang tergabung dalam Ikatan Family Al-Manar (IFA). Mereka berkumpul dalam acara berbuka puasa bersama di lokasi baru, tepatnya di belakang Masjid Baitul Azhar Cot Irie, milik Yayasan Bungong Jeumpa Al-Azhar Pesantren Modern Al-Manar.

Buka Puasa IFA: Mengulang Kisah Kebersamaan dan Menguatkan Ikatan

Yang membuat acara ini semakin istimewa adalah lokasi kegiatan yang berada di area pembangunan kantor sekretariat alumni. Gedung tiga lantai yang sedang dibangun ini merupakan bentuk kepedulian dari Pembina Yayasan Bungong Jeumpa Al Azhar, H. Ibrahim A. Wahab, terhadap para alumni. Beliau ingin membesarkan hati para alumni agar semakin bangga terhadap almamater mereka, dengan harapan di masa depan, alumni-lah yang akan memberikan perhatian penuh kepada pesantren, menjaga nama baiknya, serta berkontribusi dalam berbagai bidang. Tanggung jawab besar ada di pundak alumni, karena inti dari segala ikatan ini adalah menjaga marwah nama baik pesantren dengan persatuan dan kesatuan. Semua yang alumni kerjakan, berbagai kegiatan yang dilakukan, pada akhirnya bermuara untuk menjaga nama baik pesantren dan mensyiarkan negeri satu menara.

Momen buka puasa bersama menjadi saat yang penuh makna, di mana kenangan akan kebersamaan kembali terulang. Kebersamaan yang terjalin di Pesantren Modern Al-Manar lahir dari kesederhanaan, pengorbanan, dan perjuangan. Al-Manar bukanlah pesantren elit, tetapi sebuah lembaga yang mendidik dengan nilai kesederhanaan, keikhlasan, ukhuwah Islamiyah, serta kebebasan berpikir dan berkarya yang terarah serta terbimbing.

Ketulusan dan kerja keras para guru semakin terasa setelah para alumni terjun ke kehidupan yang sesungguhnya. Nilai-nilai yang diajarkan di pesantren menjadi bekal dalam menghadapi dinamika kehidupan yang penuh tantangan. Al-Manar membekali dengan lima jiwa dan semboyan yang menjadi pedoman hidup. Di pesantren ini, perbedaan latar belakang keluarga dan status sosial melebur dalam satu ikatan persaudaraan. Al-Manar memberikan kunci, dan para alumni yang menentukan pintu kesuksesan yang mereka buka.

Buka Puasa IFA: Mengulang Kisah Kebersamaan dan Menguatkan Ikatan

Kini, masing-masing alumni mulai membuka pintu kesuksesan masing-masing dalam berbagai bidang. Ada yang menjadi politisi, pengusaha, pendakwah, imam masjid, aparat keamanan, Polisi, TNI, ASN, dan berbagai profesi lainnya. Semua tengah berjuang mengungkap misteri kehidupan dengan bekal yang diperoleh dari pesantren. Meski sebagian merasa bahwa enam tahun pendidikan di pesantren hanyalah permulaan, tidak dapat disangkal bahwa pondasi awal kesuksesan mereka bermula dari Al-Manar. Kedisiplinan, ketekunan dalam belajar, dan kekuatan doa yang ditanamkan selama di pesantren menjadi faktor utama keberhasilan mereka.

Keberhasilan dalam dunia akademik dan profesional yang diraih para alumni hari ini tidak terlepas dari kebiasaan baik yang dibangun di pesantren. Latihan keras dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari disiplin dalam belajar hingga konsistensi dalam ibadah, telah membentuk karakter mereka. Kemampuan berbahasa yang dikuasai saat ini pun tak lepas dari ketekunan mengikuti muhadasah di waktu subuh. Begitu pula dengan keahlian menjadi imam, yang lahir dari kebiasaan melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

Buka Puasa IFA: Mengulang Kisah Kebersamaan dan Menguatkan Ikatan

Sejauh apa pun perjalanan yang telah ditempuh, semua itu berawal dari usaha yang ditempa di pesantren, serta doa dan bimbingan para guru. Setinggi apa pun pencapaian yang diraih, jangan lupakan bahwa Al-Manar adalah rumah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup. Airnya pernah kita minum, tanahnya pernah kita pijak, dan ilmunya pernah kita serap. Oleh karena itu, mari kita jaga kebersamaan ini agar melahirkan lebih banyak kebaikan di masa depan.

Buka Puasa IFA: Mengulang Kisah Kebersamaan dan Menguatkan Ikatan

Silaturahmi tidak hanya sebatas momen berbuka puasa, tetapi harus terus berlanjut. Jangan biarkan tali persaudaraan ini terputus. Kebersamaan ini adalah jembatan yang menghubungkan sesama alumni, baik antar-angkatan maupun dengan adik dan kakak kelas. Inilah esensi dari momen berbuka puasa bersama: menghidupkan kembali kenangan, mempererat persaudaraan, serta menghargai kebersamaan yang telah terjalin. Sebab, siapa yang menjaga kebersamaan, ia tidak akan pernah ditinggalkan oleh kebersamaan itu sendiri.

Maryam Al-Humaira Marzuki: Santriwati Berbakat dengan Cita-Cita Kuliah di Jepang

0
Maryam Al-Humaira Marzuki: Santriwati Berbakat dengan Cita-Cita Kuliah di Jepang

ALMANAR.ID â€“ Pesantren Modern Al Manar telah menjadi saksi perjalanan akademik dan pengembangan karakter Maryam Al-Humaira Marzuki, seorang santriwati kelas III Aliyah yang memiliki impian besar untuk melanjutkan studi di Jepang. Lahir di Banda Aceh pada 12 Maret 2007, Maryam telah menempuh pendidikan di pesantren sejak tahun 2019 dan terus menunjukkan semangat belajar yang tinggi, terutama dalam bidang bahasa dan seni.

Sejak kelas 2 Tsanawiyah, Maryam aktif dalam bidang kaligrafi. Selain itu, ia juga berkontribusi dalam organisasi pesantren dengan menjadi bagian dari divisi kesenian dan bahasa. Ketertarikannya pada bahasa Jepang mulai tumbuh sejak ia duduk di kelas 6 SD, berawal dari kesukaannya menonton anime. Dari sana, ia mulai belajar bahasa Jepang secara otodidak melalui video dan film yang ia tonton.

Ketika memasuki kelas I Aliyah, Maryam mendapatkan kesempatan untuk mengikuti bimbingan bahasa Jepang selama sebulan. Kini, sebagai santri kelas III Aliyah yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya di Pesantren Modern Al Manar, ia merasa banyak perubahan yang ia alami. Menurutnya, selama hampir enam tahun di pesantren, ia tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, tetapi juga mengalami perubahan karakter, disiplin waktu, dan pola pikir yang lebih matang.

Maryam Al-Humaira Marzuki: Santriwati Berbakat dengan Cita-Cita Kuliah di Jepang
Waktu Apel Tahunan 2024, Maryam juga mendapat penghargaan atas prestasinya sebagai juara Olimpiade Kimia

Maryam memiliki cita-cita besar untuk menjadi seorang apoteker. Langkah pertamanya adalah menempuh pendidikan S1 di dalam negeri dengan mengambil jurusan farmasi, sebelum akhirnya melanjutkan studi S2 di Jepang. Cinta dan minatnya terhadap bahasa Jepang juga dipengaruhi oleh ayahnya, Prof. Muttaqin Hasan, seorang dosen di Universitas Syiah Kuala jurusan Teknik Sipil yang merupakan lulusan S3 dari Jepang.

Sementara itu, ibunya, Barriah Rusli, berprofesi sebagai perawat di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Maryam adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang selalu mendapat dukungan dari keluarganya dalam meraih cita-cita.

Waktu Apel Tahunan 2024, Maryam juga mendapat penghargaan atas prestasinya sebagai juara Olimpiade Kimia, meraih medali perunggu.

Baru-baru ini, Maryam telah menyelesaikan program Amaliyah Tadris, sebuah pengalaman berharga yang mengasahnya menjadi seorang guru. Program ini tidak hanya memberinya wawasan tentang dunia pendidikan, tetapi juga melatihnya dalam hal persiapan, kerja keras, dan disiplin dalam menjalankan tugas sebagai pengajar praktik micro-teaching.

Dengan segala usaha dan doa yang telah ia curahkan, semoga impian Maryam untuk menempuh pendidikan di Jepang dapat terwujud. Semangat dan kerja kerasnya menjadi inspirasi bagi banyak santri lainnya di Pesantren Modern Al Manar. Amin.